Muridku Kekasih Hatiku Kenapa lagi sih kamu ? “ tanyaku dengan nada sinis kepada Amanda. “Maaf kak….. aku jarang latihan..” “Udah berkali2 kamu ga bisa ngikutin.. nadanya melenceng semua… jangan dikira bisa tanpa latihan kamu bisa main saksofon dengan bagus” lanjutku. Amanda hanya terdiam. matanya memandang ke lantai, seakan2 menghitung jumlah lantai keramik, atau sekedar mengira2 luas karpet yang melapisinya. Aku sebal. Sebagai seorang guru musik, hal yang paling menyebalkan adalah ketika muridmu tidak berlatih sama sekali. Ditambah lagi, ketika aku sedang pusing mengerjakan tesis s2ku, dimana mengajar saksofon adalah satu2nya hiburanku, murid yang satu ini membuat hatiku kesal. Amanda, 19 tahun, seorang mahasiswi yang kebetulan satu universitas dengan tempatku mengambil kuliah s2, menurutku sangat berbakat bermain saksofon. Tapi dia jarang sekali latihan. Terdengar dari nadanya yang melenceng, dan tiupannya yang tidak statis, pertanda dia jarang menyentuh alat musik itu. Sebagai mahasiswa S2 yang membiayai kuliahnya sendiri, bermain musik dan mengajar musik adalah tulang punggung utama yang membiayai kuliahku. Ayahku tidak bisa membiayai lagi kuliahku karena beliau sudah lama meninggal. Uang yang ibuku berikan setiap bulannya hanya cukup untuk membayar kos saja. Uang untuk kuliah, juga disokong oleh beasiswa. Tetapi beasiswanya tidak penuh. Itulah mengapa aku menggunakan bakatku dalam bermain alat tiup saksofon untuk mencari uang, mengajar maupun bermain di acara2 musik. Dari yang kulihat lewat situs pertemanan facebook, Amanda tampak senang sekali bermain dengan teman2nya entah itu nongkrong di kafe, jalan2 ke mall, maupun berkunjung ke Bandung dengan teman2nya. Itu tidak masalah sebenarnya, tetapi jika dia meninggalkan latihan saksofonnya, itu masalah buatku. Ada orang yang bilang kalo muridnya ngaco, berarti gurunya yang ga bener. Itu membuatku menjadi gemas ketika Amanda selalu membuat kesalahan ketika bermain. “udah ya, hari ini sampai disini saja” aku membereskan saksofonku dan buku musik ku. “tapi kak…” amanda memotong ucapanku “tapi kenapa… pokoknya minggu depan saya tes lagi yang tadi ya, jangan sampe ga bisa kayak sekarang.” Aku segera bergegas keluar, memakai jaket, mengisi absen guru di meja resepsionis, dan keluar untuk menyalakan mesin motorku. Sudah mau maghrib rupanya. Amanda menyusulku keluar. “Kak… maafin aku ya…. Aku emang lagi banyak kegiatan akhir2 ini, jarang latihan….” Ucapnya. “yaudah… minggu depan perbaikin oke” aku memakai helmku. “saya pulang dulu ya” aku mengendarai motorku menjauhi tempat les itu. Dari spion aku bisa melihat Amanda masuk ke dalam city car nya. Pertemuanku dengan Amanda bermula ketika aku mengisi acara yang diadakan oleh BEM kampusnya. Dia menjadi panitia, LO band yang beranggotakan diantaranya aku sendiri. Berawal dari ngobrol2 Amanda rupanya bermain saksofon juga dan dia ingin belajar dariku. Karena aku mengajar di salah satu sekolah musik yang mentereng di Jakarta, kusuruh saja dia daftar, dan dia pada akhirnya mendaftar untuk menjadi muridku. Sebenarnya Amanda menyenangkan, senang melucu dan mudah akrab. Tetapi kekurangannya ya itu, malas berlatih, entah hari2nya dihabiskan oleh apa selain kuliah. Apakah itu main, pacaran, aku tidak terlalu tahu, karena obrolan antara aku dan Amanda hanya berkisar musik, lokal maupun musik global. Aku kembali ke kosanku, kunyalakan laptop hasil tabungan sendiri itu. Sebenarnya aku bukan dari keluarga yang kurang mampu, hanya saja ayahku orangnya disiplin dan tidak memanjakan anaknya. Waktu aku kuliah s1 di bandung dulu, ketika mampu mencari uang sendiri, aku sudah mulai meringankan beban orang tuaku dengan tidak meminta uang jajan. Ketika sebelum aku lulus s1, ayahku meninggal dan wasiat terakhirnya adalah agar aku terus meneruskan sekolah. Kujalani pesan ayahku, dan nyatanya, walaupun hanya dari mengajar dan bermain musik, aku bisa menabung, membayar uang kuliah, dan menyicil motor, walaupun uang untuk kos masih dibantu oleh ibuku. Sedangkan Amanda, bisa dilihat hidupnya amat mudah. Orang tua yang kaya, dan memanjakan anaknya, terlihat dari saksofonnya yang terlihat baru dan kinclong, beda dengan saksofon tua ku yang hasil nabung sendiri itu. Naik mobil kemana, jalan2, pacarnya pun aku kenal, walau hanya sebatas tahu sama tahu saja. Anak orang kaya juga. Kehidupan mereka berbeda jauh denganku. Tampaknya apa2 saja yang mereka inginkan mudah didapat. —————————–minggu depan ———————————————— Jam 4 sore. Aku menunggu hujan reda di kosanku. Jam 5 harusnya aku sudah di sekolah musik itu. Tapi karena aku memakai motor, maka aku hanya bisa menunggu. Waktu terus berlalu. Hujan tidak reda. Maghrib sudah tiba, dan aku sudah menelpon ke sekolah musik itu untuk membatalkan les hari ini. Aku tidur2an di kasurku, malas untuk keluar kemana2 lagi. Tiba2 handphoneku berbunyi. Aku melihat layar handphoneku. Ternyata nomor Amanda. “Halo kak….” Amanda mengawali pembicaraan “Eh kamu, ada apa ? udah tau kan lesnya ga jadi ? “ jawabku “Aku ada di depan kosan kakak” lanjutnya “Eh…. Ngapain ? “ aku heran. Amanda memutus telponnya. Aku bergegas keluar dari kamar kosanku, dan kulihat Amanda dengan basah kuyup terguyur air hujan, berdiri di depan gerbang kosanku. Tanpa pikir panjang aku mengambil payung, lari dan membuka pintu gerbang. “Lho kamu kenapa ? kok kehujanan ? mobil kamu mana ? “ tanyaku bertubi2. Amanda hanya diam saja. DIa menggigil menahan dingin, sekilas kulihat matanya memerah dan ada bekas tangisan. Untung saja tidak ada orang yang lihat, jadi Amanda bisa masuk ke kamarku. Karena kamar mandinya ada di dalam kamar, kusuruh Amanda untuk mandi. Tak lupa kuberikan t shirt ku yang ukurannya agak kecil dan celana pendek, juga handuk yang biasa kupakai. Aku agak khawatir sebenarnya. Karena di kosan ini tidak boleh membawa tamu perempuan ke dalam kamar. Aku tidak tahu apa yang bakal terjadi kalau orang2 kosan mengira aku dan Amanda melakukan hal2 yang tidak senonoh. Aku hanya diam menatap pintu kamar mandi. Suara air mengalir dari shower bisa kudengar dengan jelas. Tak berapa lama Amanda keluar, dengan memakai baju yang tadi kusiapkan. Dia sedang berusaha mengeringkan rambutnya dengan menggosok2annya dengan handuk. Bisa kulihat matanya masih merah. “Kenapa sih kamu ?” aku memberanikan diri bertanya “Ceritanya panjang kak….” Katanya sembari duduk disampingku, di pinggir ranjang. “kalo ga mau cerita ga usah dipaksa” aku lalu berdiri dan memakai jaket “Saya beli makan ya, kamu diem disini dulu, jangan ikut keluar, soalnya di kosan ini ga boleh ada tamu cewek masuk ke dalam kamar” “ dan jangan ribut, nanti dikirain saya nyelundupin kamu ke dalem” kataku mengingatkan Aku tidak habis pikir. Apa yang ada di pikiran Amanda sehingga dia nekat datang ke kosan guru musiknya. Aku berjalan dengan payung di tengah hujan, menuju tukang nasi goreng untuk memesan 2 porsi, dibawa pulang. Aku kembali ke kamar kosan. Hujan telah reda. Aku membuka kunci kamar, dan menemukan Amanda sedang menerima telpon dengan air mata yang menetes. Aku segera menutup pintu kamar dan menyiapkan makanan. Amanda hanya diam saja, dan dia serta merta menutup telponnya. “Eh… makan dulu…” aku menegurnya Amanda hanya diam. Sejenak kami berdua terdiam beberapa saat. “Kak… ada tisu ?” Amanda akhirnya membuka mulut. Aku segera mengambilkan tisu dari laci meja belajarku. Amanda mengusap air matanya dan menarik nafas panjang. “Maaf ya kak aku ngerepotin” Amanda mengambil makanannya dan mulai makan. “Gapapa kok, santai aja” “Ntar kalo bajunya dah kering saya anter kamu pulang ya” jawabku. “Ga usah kak…. Aku mau disini aja” pernyataan Amanda membuatku kaget. “Tapi, saya kan udah bilang, kosan disini ga boleh nerima tamu cewek sebenernya “ Aku sengaja mempertegas kata2ku. “Aku gak akan ribut kak. Janji” jawabnya Aku hanya menghela nafas sambil ogah2an menyantap nasi gorengku. Apa sih maunya dia, begitu pikirku. “Kalo mau minum ambil tuh gelasnya di rak di deket pintu kamar mandi” ucapku setelah Amanda menyelesaikan makanannya. Amanda menurut dan mengambil gelas, dan menuangkan air dari dalam dispenser. Aku tidak menghabiskan makananku, dan menyalakan laptopku. Jujur saja aku bingung bagaimana harus menghadapi Amanda. Aku jarang pacaran, ketika kuliah aku malah tidak sempat pacaran. Sibuk oleh kuliah dan musik. Apalagi sekarang, kuliah, musik, ngajar. Itulah yang menyebabkanku agak canggung hanya berdua di kamar dengan seorang perempuan. “Kalau mau baca2 majalah itu ada di rak di atas kasur” Aku berkata seperti itu karena Amanda terlihat hanya duduk di tepi ranjang dan memandang lantai dengan tatapan kosong Tapi Amanda seakan tidak menggubris ucapanku. Dia masih melamun “Amanda. Kenapa sih ?” Aku makin penasaran. Amanda tampak kaget mendengar pertanyaanku. “Hmmm…. Aku heran kak… apa sih yang dimauin sama laki2” dia membuka dialog “Kenapa gitu ?” aku turun dari kursi dan duduk di karpet. Amanda pun turun dari pinggir ranjang dan duduk di hadapanku. “Tadi aku rencananya bolos les kak….” jawab Amanda “Terus ?” “Aku jalan2 sama pacarku tadi. Pas jam 5, jam harusnya aku les, aku di dalem mobil pacarku, dia lagi nyetir, rencananya mau jalan cari makan terus nonton” Amanda melanjutkan ceritanya. “Entah kenapa handphone dia ditaruh di dashboard. Aku pinjem, mau main game yang ada di hapenya. Dia ngebolehin, tapi entah kenapa aku tiba2 pingin buka inbox smsnya” Halah. Pasti cowoknya selingkuh, begitu pikirku dalam hati. “Aku ngeliat sms2 mesra kak. Gak cuman satu tapi beberapa cewek” Buset. Pikirku. Jagoan banget tuh cowok. “Aku kurang apa sama dia coba ? bela2in bolos les, bela2in dia, selalu aku temenin, kok dia begitu sama aku ?” dia mulai menangis lagi. “Jijik liat sms2 itu, sayang2an segala macem orang pacaran aja” Aku mengambilkan Amanda tisu lagi karena airmatanya mengalir deras. “Terus gimana ?” aku memintanya melanjutkan ceritanya. “Aku marah kak. Tapi dia cuman diem aja ga ngomong apa2. Akhirnya di lampu merah aku keluar dari mobil” “Kan ujan” jawabku sedikit tidak antusias. Entah mengapa kasus ini sangat klasik pada orang2 yang pacaran. Tapi tampaknya Amanda sangat terpukul oleh kejadian tersebut. “Biarin aja kak. Aku jalan, ngejauh dari mobil, aku bisa denger sih dia nglakson terus….. tapi setelah jauh dari mobilnya, aku bingung mau kemana. Tapi aku inget kalo tempat tadi deket sama kosan kakak. Makanya aku kesini” Memang dulu Amanda pernah kesini diantar oleh pacarnya, mengambil partitur lagu. “Terus ? kok kamu malah kesini ? ga pulang aja ?” tanyaku sambil berusaha meyakinkan dia agar pulang. “Males nanti ditanyain sama orang tua…. kemana si pacar, kok pulang sendiri. Ribet “ jawabnya “Lah kalo dicariin gimana ?” aku makin bingung “Aku udah bilang sama orang tua aku… mau tidur di rumah temen” “Tenang aja, mereka percaya kok…..” Aduh. Entah mengapa menurutku Amanda berlebihan dalam menghadapi masalah ini. Kenapa gak putusin aja cowok itu, cari taksi, pulang, tidur, besok lupa. Tapi dia malah repot2 pergi ke kosanku. “Terus kamu mau ngapain disini ?” tanyaku dengan malas “Aku mau nenangin diri dulu kak…..” Eh. Bukannya lebih enak di rumah ? disitu kan bisa nangis bombay di depan orang tua. Dijamin bakal ditenangin, abis nangis besoknya lega deh. Aku bingung melihat kerapuhannya menghadapi masalah ini. “yaudah lah terserah” kataku “tapi inget, jangan ribut, jangan keluar kamar, besok pagi saya anterin ke rumah” “Iya kak” jawabnya… Jam2 berikutnya diisi dengan obrolan2 yang biasa kami lakukan, soal musik, teknik bermain saksofon. Tak lupa aku menyetel musik keras2 dari laptop dan menyalakan tv agar suara kami tidak terdengar. Tanpa terasa sudah jam 11 malam “Aku ngantuk kak….” Kata amanda “Hmm…. kamu tidur di atas aja, saya biar tidur di karpet” jawabku sekenanya. “Enggak kak… aku kan tamu. Aku aja yang tidur di karpet” malah enak di gw. Aku pikir. Aku mengiyakannya dan menggelar selimut cadangan di karpet, untuk alas tidur agar agak empuk, dan memberinya selimut tipis serta bantal yang berlebih di ranjang. Aku mematikan lampu, dan juga naik ke ranjang, bersiap untuk tidur. “Jangan dimimpiin kejadian yang tadi ya..” kataku mengingatkan “Iya kak….” Sepi. Aku hanya menatap langit2 sambil memikirkan caranya besok pagi keluar tanpa ketahuan yang jaga kos. Kebetulan aja tadi hujan besar sehingga penjaga kos tidak memperhatikan pintu gerbang. Aku agak kesal dengan sikap Amanda. Sudah malas latihan, dan tidak berpikir panjang. Sebenernya muncul rasa kasihan yang besar dalam diriku. Dia belum dewasa, belum bisa mengambil keputusan dengan matang, dan akibatnya seperti ini. Ada di kos2an guru musiknya, dan tidur di lantai. Yasudahlah. Mungkin Amanda butuh teman malam ini, begitu pikirku. Entah kenapa aku tidak bisa tidur malam ini, harus kuakui kehadiran Amanda malam ini merusak pikiranku. Bukan jadi buruk, tetapi pikiranku menjadi kotor. Aku pernah melakukan seks, sekali2nya waktu baru kuliah dulu. Pengalaman itulah yang membuatku sedikit membayang2kan bagaimana kalau aku bermain cinta dengan Amanda. Amanda memang cantik, kulitnya putih dan mukanya manis. Dan fakta2 itulah yang membuat pikiranku menjadi kotor. Coba kalau dia laki2. pasti aku santai2 saja. Lama aku tidak bisa tidur. Aku sengaja menghadap ke tembok agar tidak melihat Amanda. Tiba2.. Jleg. Aku merasa ranjangku dinaiki orang. Aku kaget, sedikit terkesiap tapi aku berhasil mehanannya. Rupanya Amanda menaiki ranjangku. “Kak… aku tidur sama kakak ya……” katanya dengan nada merajuk. Damn Aku tidak bisa menolak karena dia sudah naik ke atas ranjang. “Ehh… ni kalau mau pake selimut. Aku memberikan bagian selimutku pada Amanda. Dia tampak agak malu, dan segera mengambil bagian selimutnya, dan tidur membelakangiku. Sial. Apa2an ini. Kenapa dia naik ? apa karena kedinginan ? atau keras ? atau kenapa ? Aku merasakan gerakan di sebelahku. “Kak… maaf… aku sebenernya masih pengen ngobrol” “gapapa kan ?” Aku membalik badanku dan mendapati bahwa jarak mukaku dan muka Amanda tidak lebih dari 2 jengkal. Matanya yang memerah menatapku penuh harap. “Kamu ya… Dengerin. Kenapa sih mesti gini ? kamu sekarang ada di kamar cowok, tidur bareng satu kasur. Ga pantes tau. Apa saya tidur di bawah aja ya” Aku berusaha bangkit. “Ini yang aku suka dari kakak…” tiba2 Amanda berkata seperti itu. “Eh……..” Aku heran dan mematung sejenak “Kakak orangnya tegas…” “gak kayak dia…. egois… udha gitu ga pernah bisa tegas dan ga punya pilihan” “Manda… tapi” Kata2ku terhenti ketika tangannya menyentuh pipiku lembut. “Aku suka sama kakak” pengakuannya membuatku terhenyak. Apakah benar ? apa Amanda Cuma terbawa perasaan akibat baru mengalami kekecewaan dalam berpacaran ? Aku mematung. Terdiam. Dalam hati aku mengakui bahwa sosok Amanda yang manis membuatku tertarik. Tetapi selama ini aku selalu me-ignore perasaan itu karena 1, dia sudah punya pacar, dan 2, aku tidak ada waktu untuk perempuan ditengah kesibukan tesis, musik dan ngajar. “Kak” tangannya terus mengelus pipiku. Aku pun luluh. Tiba2 kami berdua saling memajukan wajah kami masing2. kami menutup mata dan bibir kami pun bersentuhan. Kami berciuman dengan pelan dan lembut. Amanda terus maju ke dalam pelukanku. Aku meraih pinggangnya, dan menggenggam tangan satunya. Telapak kaki kami saling bersentuhan dan saling bertautan.di dalam selimut itu. kami berciuman dengan hangat. Kami melupakan batas antara guru dan murid. Walaupun umur kami tidak berbeda jauh, hanya enam tahun, namun rasanya ini seperti affair yang aneh antara guru dan murid. Walaupun guru dan muridnya hanya di sekolah musik saja. Kami berciuman sangat lama. Entah kenapa kami berdua tidak berciuman dengan nafsu dan tergesa2. Tangan kiriku yang menyentuh pinggang Amanda, tiba2 mulai nakal. Tanganku masuk ke dalam t shirt yang dia pakai. Menyentuh kulit halusnya. Amanda tidak berontak. Dia malah terus menciumiku. Amanda pun tidak protes ketika tanganku masuk kedalam celana pendeknya dan memegang pantatnya. Damn. Rupanya dia tidak memakai celana dalam dan BH. Aku melepaskan ciumanku, dan mulai menciumi telinga dan lehernya. “Ahh… Kak… ‘ Amanda tampak menikmati perbuatanku. Tanganku terus bermain mencoba membuka celana pendeknya. Amanda tidak berontak, kakinya malah beringsut membantuku melepas celana pendek itu. Pada akhirnya aku melempar celana itu ke lantai. Aku mulai menyentuh pahanya yang sangat mulus. Aku memeluknya erat, menempelkan perutnya di perutku. “Kak….. “ Amanda memanggilku “Kenapa ?” Aku menghentikan ciumanku di leher “Kalau mau itu’… pelan2 ya…. aku belum pernah…” jawabnya pelan dengan nada pasrah dan tatapan penuh harap. Apa. Masih perawan ? aku kaget. Kupikir setidaknya dia pernah tidur dengan pacarnya. Pantas saja dia tidak bisa menyikapi kelakuan pacarnya dengan benar, pengalamannya sangatlah minim. Aku terdiam. Mematung. Tidak dapat berpikir dengan jernih. “Amanda… kalau kamu gak mau, jangan….” aku mundur “Gak apa2 kak. Kalau sama kakak aku mau..” Amanda meraih tanganku. “Kamu belum pernah…. jangan dipaksa kalau gak mau….” aku berusaha berpikir jernih. Amanda terdiam, tetapi dia malah masuk ke pelukanku kembali. “Aku mau….” jawabnya pelan “Aku Cuma minta kakak perlakukan aku dengan lembut” “Tapi” aku masih bertahan “Kak…. aku mau kasih ke kakak malem ini” “itu karena aku suka sama kakak” “dari pertama ketemu, tapi kakak tampaknya cuek sama aku…. tapi aku makin suka karena tau kakak orangnya tegas, dewasa, “ “Amanda, itu cuman perasaan pelarian aja…” jawabku Amanda hanya diam. Tetapi dia menjawab dengan semakin masuk ke dalam pelukanku. Dia memelukku dengan erat, dan tidak mau melepasku. “Aku mau ngelakuinnya cuman sama kakak” amanda tetap gigih. Kami berpandangan sangat lama. Hingga akhirnya aku menciumnya kembali. Pertahanan akal sehatku runtuh. Tanganku terus melingkari pinggangnya yang ramping itu. Amanda perlahan2 bergerak menindih tubuhku. Badannya naik ke atas badanku. Tangannya mencoba membuka t shirt ku tapi tampaknya dia agak canggung melakukannya. Aku melepaskan tanganku dari pinggangnya dan membantunya membuka atasanku. Setelah itu aku berusaha bangkit dan duduk. Amanda memegang bahuku dan mencoba maju menciumku. Aku menahannya dan memegang kedua tangannya. Aku menatap matanya lekat2. amanda menatapku malu2. Aku sedikit tegang. Malam ini kedua kalinya aku berhubungan seks. Dan ini yang pertama bagi Amanda. Jantungku berdetak hebat. Aku menggenggam ujung t shirt yang dia pakai. Pelan2 kutarik keatas. Amanda menurut dengan mengangkat tangannya. Amanda sudah telanjang bulat di pangkuanku. Kedua tangannya disilangkan, menutupi buah dadanya yang kecil. Dia sedikit menunduk dan tampak sangat malu. Pasti ini pertama kalinya dia telanjang bulat di depan laki2. Aku memegang dagunya dan mengangkat wajahnya. Tak berapa lama kucium bibirnya lembut. Aku menggenggam kedua tangannya dan mulai menciumi lehernya, terus sampai ke buah dadanya yang kecil Aku menciumi putingnya. Kurasakan badannya agak gemetar, entah karena geli atau agak takut. “Uhh….. Kak… geli…..” Amanda mendesah kecil. Aku berbisik kepadanya “Jangan terlalu berisik ya… nanti bisa gawat kalau ketahuan penjaga kos…” Amanda mengangguk pelan. Aku melanjutkan menciumi buah dadanya. Sempat kulihat Amanda menggigit bibirnya. Menahan agar dia tidak ribut. “Ngggh…. mmmhhh…” Amanda terus mendesah. Aduh, bagaimana nanti ketika kami sampai ke inti permainan ?. Aku menyuruh amanda untuk turun dari pangkuanku. Aku segera melepaskan celanaku. Amanda nampak agak kaget ketika melihat penisku. Ini pertama kalinya juga dia melihat penis lelaki langsung. Amanda duduk di sampingku. “Amanda, kalau kamu emang ga siap, mendingan gak usah….” Aku menatap wajahnya yang tampak malu bersemu merah, “ Ga apa2 kak…. udah sampe sini….” dia tersenyum kecil walau aku bisa merasakan bahwa dia merasa gugup dan deg2an. Aku memegang lembut tangannya dan mencium keningnya. Lalu aku menariknya pelan agar kembali duduk di pangkuanku. Amanda duduk membelakangiku. Punggungnya sungguh mulus dan bersih. Aku mulai menciumi bahunya, terus sampai keleher. Kupeluk erat pinggangnya dan bisa kurasakan tangan Amanda memeluk erat leherku. Lama kuciumi bagian belakang leher dan punggungnya. Tak tahan lagi, pelan2 kubimbing Amanda untuk berbaring di kasur. Aku memegang lututnya dan kulebarkan pahanya. Aku menindih badannya. Tangan Amanda menahan bahuku. Aku sejenak mematung memandangi Amanda. Patutkah kurenggut keperawanan perempuan manis ini ? Haruskah dia melakukannya denganku ? Amanda balik menatapku dan berkata “Kak….. pelan2 ya… aku tau pasti sakit pada awalnya” “Kalau kamu gak mau, bisa kita hentiin sekarang kok….. “ aku menjawabnya. Amanda menggeleng pelan. “Aku siap kak………..” Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya yang telah basah. Pelan2 kugesekkan kepala penisku di bibir vaginanya. Amanda mengejang2 geli. Aku memperbaiki posisi dengan menggenggam tangannya. Kurasakan pelan, penisku memasuki bibir vaginanya. Sempit sekali. Aku berkonsentrasi penuh memasuki vaginanya. “Nggggh…….Ahhh….. “ Amanda menahan sakit. Bisa kulihat dia menggigit bibirnya dan matanya sedikit berkaca2. “Uhhhh…..” dia menarik napas lega ketika penisku masuk penuh kedalam vaginanya. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan. Amanda tampak menutup matanya, dan meringis seperti menahan sakit. Aku mencabut penisku. Kulihat penisku berlumur darah perawan Amanda. “Sakit? Kalau kamu ga tahan sakitnya ga usah dilanjutin…” Aku khawatir “Gapapa kak…..” Amanda tersenyum dengan mata agak berkaca2. Aku menarik nafas panjang, kuputuskan untuk tidak merubah2 posisi bercinta kami, terlalu dini untuk kami berdua. Ditambah lagi pengalaman kami berdua sangat minim. Aku kembali memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Sudah lebih mudah, walau masih sempit. Kurasakan dinding vaginanya yang hangat mengapit penisku erat. “Mmmhhhh….kak.. “ Amanda mendesah pelan, dia sudah tidak meringis atau menggigit bibir lagi seperti sekarang. Aku terus memaju mundurkan penisku dengan pelan namun temponya stabil. “Uhhh…..” Amanda tiba2 mencengkram erat bahuku. Seakan ingin mencakarnya. “Mmmmhhh” Kaki Amanda mencengkram erat pinggangku. Aku tahu dia akan orgasme. Terlalu cepat mungkin. Tetapi wajar. Karena ini pengalaman pertama bagi Amanda. Dia belum tahu bagaimana mengatur tempo, merubah posisi, ditambah lagi malam ini semuanya aku yang mengendalikan. Amanda terus bersuara kecil mengikuti tempo goyanganku. “Nggg… mmmmhh….” Tiba2 aku menghentikan gerakanku. Aku tak ingin aku bablas keluar di dalam. Kaki amanda kuat mencengkram pinggangku. Malam ini adalah pengalaman pertamanya. Wajar jika dia tampak tegang atau gugup. Aku tak mau jika ketegangannya mengakibatkan kecelakaan yang tidak diinginkan. “ah…. kenapa kak ?” tanyanya polos dengan nafas tidak teratur “Enggak… tadi kamu ngejepit pingganggku terlalu keras… aku takut kalau nanti aku keluar di dalem…” jawabku. “oh…. “amanda “kamu santai ya sayang….” aku mengelus rambutnya lembut dan dia hanya mengangguk pelan. Pelan2 aku mengisyaratkan agar Amanda tidur tengkurap. Dari belakang aku memposisikan kepala penisku tepat di lubang vaginanya. Pelan2 aku masukkan kembali. “hmmhhh… aaahhhh…” Amanda kembali mendesah ketika kumasukkan penisku. Aku memeluk pinggangnya dan membimbingnya naik. Kami bercinta dalam posisi doggy style. Tangan Amanda bertumpu pada kasur. Aku menggerakkan penisku maju mundur sembari memegang erat pinggangnya. “Uuuuuh…. Ahhh….. “ Amanda tidak bisa menahan lagi suaranya. Entah karena kesakitan atau keenakan. Tapi kalaupun kesakitan, dia tidak berontak. Amanda terus mengerang. Entah berapa lama kami melakukannya. “Kak…. aku… ahhh” Aku tau Amanda akan segera orgasme. Tapi aku tidak mencebut penisku. Aku malah makin bernafsu menggerakkannya. Tumpuan tangannya semakin lemas. Aku secara refleks malah menarik tangannya kebelakang agar posisi tubuhnya tetap stabil. Aku merasakan tubuhnya menegang dan vaginanya menjepit erat penisku. “Aaaaah….. aaaahh….. nggghh….” Amanda mengerang tanpa mempedulikan keadaan kamar kosku yang mungkin saja suara malam itu bisa bocor ke kamar sebelah. “Ngggghh… aaaaaaaaaah”. Tak berapa lama aku langsung mencabut penisku dan spermaku lalu muncrat berantakan di luar vaginanya. Amanda langsung dengan lunglai menjatuhkan diri ke kasur. Aku pun merebahkan diri di sebelahnya. Kami berpandangan dengan cukup lama dan berpelukan sampai kami tertidur. Kini, kami bukan murid dan guru lagi. Tapi lebih dari sekedar itu. Kami sering menghabiskan waktu bersama di luar les, karena kami sekarang menjadi sepasang kekasih. Kejadian malam itu, tidak pernah terulang lagi sampai sekarang. Dan kami tidak pernah mengungkitnya lagi. Biarkan malam itu ada untuk dikenang saja dalam hati kami masing2.
Minggu, 24 Mei 2015
13.18
No comments
Aku di Perkosa Adikku dan Teman2nya, Suatu hari, ketika aku pulang kuliah sore, aku menyempatkan diri ke kamar adikku mau mencari buku komik kesukaanku yang baru dipinjam tiga hari oleh adikku. Saat mencari-cari aku tidak sengaja menemukan beberapa VCD Porno di meja belajarnya dicampur dengan CD CD PSnya, aku kaget bukan main, karena tidak menyangka adikku suka nonton film-film porno, aku juga curiga akhir- akhir ini, ia pendiam, dan jarang ngobrol denganku, dan yang paling mencurigakan adalah ia barusan mengisi film kamera digitalnya dengan alasan mau memfoto-foto gadis yang mau diincarnya selama ini, aku tidak menyangka gadis yang dia incar selama ini adalah aku sendiri, saudara kandungnya. Tetapi karena orang tuaku sedang keluar kota, aku jadi tidak bisa memberitahu mereka tentang VCD pornonya selama ini, jadi aku biarkan saja. Besoknya, saat aku hendak pergi kuliah pukul setengah satu siang, dan kebetulan hari itu adikku sudah pulang dari sekolah, ia mengajak 3 orang temannya masuk ke dalam rumah dan nonton TV bersama, mereka si-A yang bertubuh kekar dan berkulit hitam legam, si-B yang berbadan gemuk tapi agak pendek, dan si-C yang kelihatan paling tua karena berbrewok agak lebat, mungkin umurnya sama denganku atau bahkan lebih tua. Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Saat aku mau berangkat, aku sempat curiga dengan sikap adikku karena dia melihatku terus-menerus dan nafasnya juga agak terengah- engah, aku hanya mengira ia cuma kecapean pulang dari sekolah, ternyata tidak sebab tiga temannya tidak pada merasa kecapaian. Ia terus memandangi tubuhku dari atas kebawah, aku jadi agak takut apakah dia merasa terangsang melihat tubuh dan bajuku yang seksi, sebab aku memakai Hem ketat putih lengan pendek, B H ku yang berbentuk tali dan berwarna hitam untuk menutupi Teteku yang berukuran 36 B terlihat jelas karena memang agak transparan. Dan aku memakai celana jeans sangat ketat dengan sebagian C D ku nampak, dan Pantatku yang bulat dan sering diremas oleh kondektur bis saat naik dan turun dari bis kota terlihat lebih menonjol, apalagi kulitku juga putih bersih karena aku keturunan Cina di ayahku dan ibuku orang bandung. Aku memakai baju seksi ini karena aku mau tampil menarik di depan pacarku yang namanya Vandy yang baru 3 hari jadian. Saat mengambil kunci motorku, aku semakin penasaran karena teman-teman adikku memberikan uang ratusan ribu kepada adikku dan juga ikut memandangi tubuhku saat aku jalan di dekat mereka. Aku menduga mereka merasa terangsang oleh bau parfumku yang memang agak menyengat dan bertujuan untuk memberi rangsangan kepada cowok. Saat aku hendak membuka pintu, dari belakang secara tiba-tiba aku disekap oleh tangan yang hitam, agak bau dan kotor, ternyata tangannya si-A teman adikku, aku kaget dan berontak tetapi sia-sia karena dia lebih tinggi dariku dan badannya juga lebih besar berkulit hitam dan karena aku melawan terus aku dipukul perutku oleh Rafi (adikku) sendiri, sehingga aku jadi lemas. Kemudian si-B teman adikku yang lain mengangkat kedua kakiku dan menggendongku bersama si-A ke ruang TV, sementara si-C mengeluarkan VCD Pornonya dari dalam tas, kemudian menyetelnya ke TV, mereka tersenyum- senyum, apalagi adikku lebih gembira sambil menghitung uang dari teman-temannya, aku sudah mengerti itu pasti uang untuk menikmati tubuhku yang masih suci ini untuk di Entot bersama-sama oleh mereka. Aku sudah pasrah hanya bisa meneteskan air mata ketika bajuku mulai dilepas kancing bajuku satu-persatu sambil diraba-raba dan diremas-remas Teteku oleh mereka, sementara wajahku diciumi, dijilati dan sedikit digigiti hidungku yang memang lebih mancung dari hidung adikku ini oleh Rafi, si-B melepaskan ikat pinggangku dan melepaskan celana jeansku, kemudian ia melucuti celana dalamku perlahan- lahan sambil meraba-raba pahaku," Wow paha Mba’ putih dan mulus banget hmm... Harum lagi " Sementara bagian atas, si-A sudah tidak sabar dan langsung menarik dan melepas tali B H ku, akhirnya aku telanjang bulat, mereka memandangiku seperti hewan kelaparan yang hendak memangsa buruannya sambil membuka seragam SMU Negeri mereka. Adikku langsung menerkam aku, aku hanya bisa memohon. " Jangan Dik, aku ini Mba’mu..." Tapi dia sudah tidak sabar dan langsung meremas-remas Teteku yang masih kencang dan putih bersih ini, lalu ia menggigit putingku yang belum pernah tersentuh lelaki lain hingga memerah, dibagian bawah kakiku si-C menggerayangiku dengan menjilati dan menggigiti " bulu-bulu "ku yang masih lebat. Adikku melumat bibirku, lalu kebawah sambil menjilat-jilat kulit tubuhku sampai ke alat Vitalku dan melumat Vaginaku yang masih suci itu, aku hanya bisa menangis, lalu adikku mulai menegakkan Kontolnya sepanjang 19 cm itu ke atas Vaginaku, dan bicara. " Ok Mba’ waktunya ngambil keperawananmu Mba’... He he he " Jangan Fi, pleass… Ooch... Aduh.. Aauw sakit Fi " belum selesai aku bicara sudah dimasuki Kontol adikku. " Aach... Uuch masih seret tapi enak... Bener Mba’, Vaginamu ini Mba’ ! " Meski agak sulit menembus Vaginaku karena masih perawan, tapi ia terus memaksa sekuat-kuatnya. " Aach... Waow nikmatnya bukan main Vaginamu Mba’… Ooch… Yes ! " aku merasa kesakitan " Aach... Uuch... Udah Dik, sakit ! " Saat aku menjerit-jerit tiba-tiba mulutku disumbat Kontol yang lumayan besar, panjang, berwarna hitam dan bau air kencing ternyata itu penisnya si-A. " Ayo Mba’ di Isep nih Kontolku Ha... Ha... Ha, " aku hanya menangis terus, karena Vagina dan mulutku dihunjam Kontol yang besar. " Mmph... Mmpphh " Selama 10 menit Rafi mengeluarkan Kontolnya dan bergantian dengan 3 orang temannya, dan akhirnya selama setengah jam mereka menyemprotkan Sperma mereka ke lubang Vaginaku, hanya si-B yang mengeluarkan Spermanya ke mulutku. Dan mereka merasa senang dan puas melihat aku menderita, setelah puas mereka mengikat tangan dan kakiku agar tidak kabur meskipun aku juga tidak mungkin bisa lari karena tubuhku sudah sangat lemas, dan mereka istirahat sambil merokok, minum- minuman penguat tenaga, kukira semua penderitaan ini sudah selesai. Satu jam kemudian setelah mereka merasa kuat karena minum jamu dan penguat tenaga lainnya, mereka melepaskan semua tali yang mengikatku, kemudian mengentotku lagi secara lebih brutal, si-C meletakkan aku di atasnya dengan posisi telentang dan langsung menghunjam Bolku dengan Kontolnya sambil meremas-remas Teteku dari bawah yang sudah mengencang kuat. " Aach... Ooch Bolmu seret Mba’, tapi wuenak tenan, " Aku hanya dapat menjerit kesakitan sambil menangis. " Aach... Jangan… Ooch.. Sakit Mas " Lalu adikku menghampiriku, dia berada tepat diatasku dan mengangkat kedua kakiku supaya mudah posisinya dan langsung memasukkan Kontolnya yang sudah menegang akibat efek minuman tadi ke Vaginaku yang masih mengeluarkan sedikit darah keperawanan, sambil berebutan dengan si-C yang sama-sama sedang meremas-remas Teteku yang semakin mengencang. Aku hanya bisa mengerang kesakitan. " Aach... Uuch... Jangan Raf, kumohon sudah aja… Aach sakit... Oochh ! " saat mulutku menganga menjerit tiba-tiba disumbat oleh Kontol si-A. " Mmph... Mmpphh " Aku tidak bisa menjerit, semua lubang ditubuhku seperti mulut, Vagina, dan Bolku sudah disumbat Kontol berukuran besar dan panjang, karena ini pemerkosaan kedua jadi tidak selama yang pertama hanya 15 - 20 menit, sampai mereka menyemprotkan Sperma mereka bersamaan. Tapi karena si-B belum " menyerangku " dalam aksi keduanya, ia bergantian dengan adikku yang sudah lemas, ia menyuruhku berganti posisi dengan berlutut di sofa, ia mulai menjilat- jilat dan menampar-nampar Pantatku ini berkali- kali hingga memerah. " Wow Pantat Mba’ gede juga, mulus lagi " Karena Vaginaku masih terbuka ia langsung menghunjam keras secara cepat sambil menarik-narik Putingku selama kurang lebih 15 menit. " Aachh... Uuch… Sakit Mas udah dong Mas, aku dah cape sekali nih ! " Dan tubuhku yang sudah lemas ini dibalik dalam posisi telentang, lalu ia mengocokkan Kontolnya dan mengeluarkan Spermanya tepat diatas dadaku dan meratakan dengan kedua tangannya sambil meraba-raba tubuhku. Kini seluruh tubuhku berlumuran Sperma seperti mandi Sperma dari wajah hingga Pantat dan pinggul. Setelah merasa puas, adikku mengambil kamera digital dan memfotoku berkali- kali dengan posisi berbeda-beda dalam keadaan telanjang bulat, basah berlumuran Sperma dan memasukkan ke komputer untuk dikirim ke internet dengan cara mendownload ke sebuah website. Dan mengancamku untuk tidak buka mulut kepada siapapun dan kalau bocor rahasia ini, akan disebar foto-foto Bugilku ke Kampusku termasuk Pacarku melalui email teman-temanku baik cowok maupun cewek, ia mengetahui email teman-temanku karena sudah membaca-baca buku catatan harianku, akhirnya aku pilih diam saja. 4 hari sesudah itu, adikku pulang bersama mereka lagi dan mengajak 5 orang teman lain untuk mengentotku lagi, rupanya mereka sudah mulai ketagihan dengan tubuhku ini, itu sudah pasti karena tubuhku ini hanya dijual murah oleh adikku, setiap orang membayar adikku Rp 500.000 untuk memperkosaku tanpa kondom sepuas-puasnya tapi jika memakai kondom hanya membayar Rp 300.000. Totalnya 8 orang tanpa adikku, karena adikku cuma menerima uang dari teman-temannya dan menghitungnya. Mereka berdelapan memperkosaku secara bergantian dan kadang bersamaan dengan lebih menyakitkan karena mereka juga menyiksaku secara hardcore (terus terang aku mengetahui arti hardcore setelah tragedi ini), adikku tidak ikut mengentotku karena setiap malam ia mengentotku terus dengan berbagai macam gaya yang ia tonton di VCD pornonya. Seminggu bisa 4 sampai 5 kali aku diperkosa teman-teman adikku, kadang sendirian kadang berkelompok, siang dan sore. Tetapi malam harinya oleh adikku sendiri.
13.02
No comments
Cewek Bispak (cerita dewasa)
Wedding Service
Waktu itu teman saya mengajak saya menjadi panitia pernikahan salah satu sepupunya disalah satu gedung pertemuan di daerah Tebet. Ketika aku sedang mengambil makanan handphone-ku bergetar.
"Hallo.."... Lainnya
Cewek Bispak (cerita dewasa)
Baby Sitter Aduhai
Aku pernah kost disebuah rumah mewah di Makassar, pemilik rumah tergolong elite dan termasuk sibuk dengan bisnisnya. sedangkan si isteri kerja disalah satu bank swasta.
Suatu hari setelah 1 bulan si nyonya melahirkan panggilannya mBak Wulan, maka datanglah seorang baby sitter yang melamar pekerjaan sesuai iklan dari koran, setelah bercakap-cakap dengan wulan, maka baby sitter... Lainnya
Cewek Bispak (cerita dewasa)
Anaak kos Belakang
Aku Fadil mahasiswa di Kampus X di jogja, berasal dari keluarga sederhana di kota di luar jogja. Di jogja ini aku tinggal ngekos di sebuah dusun dekat dengan kampus dan rata-rata rumah disini memang dijadikan kos-kosan, baik untuk putri maupun putra. Kosanku berada didaerah bagian belakang dusun dan dibagian depanku ada kos putra, disamping ada kos putri, dan di belakang ada... Lainnya
Cewek Bispak (cerita dewasa)
14 Agustus 2013 ·
Sinta Mahasiswi Bispak
Ini kisah 2 tahun yang lalu, ketika aku masih indekost di kota Dps. Ketika itu aku baru kerja di sebuah perusahaan. Ditempat kostku yang mempunyai 10 kamar lengkap dengan kamar mandi dalam dan teras masing-masing itu merupakan tempat yang nyaman dan bebas. Maksudku bebas karena pemilik rumah tidak tinggal disana, hanya sebulan sekali datang menarik uang kost atau sesekali... Lainnya
196 · Bagikan
Cewek Bispak (cerita dewasa)
13 Agustus 2013 ·
Permainan Usai Live Show
Tiba-tiba pramugari Garuda Indonesia Airways membangunkanku dengan menyentuh bahuku, sekaligus menyatakan bahwa beberapa menit lagi pesawat yang membawaku dari bandara Soekarno Hatta akan mendarat di Bandara Don Muang, Bangkok. Pramugari cantik itu minta agar aku memasang dan mempererat sabuk pengaman, sekaligus menegakkan sandaran kursi.
“Maaf pak, mengganggu tidurnya.... Lainnya
147 · Bagikan
12.46
No comments
Cerita cewek sejagad, nurul Gadis Berjilbab Adik Iparku
Nurul Gadis Berjilbab Adik Iparku
Namaku Arif, aku bekerja di sebuah kantor BUMN. Aku sudah menikah selama 3 tahun dengan istriku. Walau kami belum dikaruniai anak, kami sangat bahagia karena istriku adalah orang yang pandai sekali menyenagkan suami. Sepertinya tidak ada habisnya sensasi, gaya, dan teknik yang istriku peragakan setiap kami bergumul di ranjang. Aku 7 tahun lebih tua dari istriku yang kini berusia 28 tahun. Beberapa waktu lalu, rumah kami semakin berwarna ketika adik bungsu istriku yang kuliah kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri tengah menjalankan Koass di salah satu Rumah Sakit negeri yang kebetulan berada dekat dengan rumah kami. Umurnya masih sangat muda sekitar 22 tahun, dia termasuk mahasiswi yang cerdas karena dapat menuntaskan studi tepat pada waktunya. Jika dilihat dari wajahnya, dia lebih cantik dari istriku, ditambah wajahnya yang teduh dan keibuan. Walaupun tubuhnya aku taksir tidak sebagus tubuh istriku tapi masih diatas rata- rata wanita pada umumnya. Perbedaan lainnya, jka istriku senang berpakaian seksi dan menarik lawan jeNurnya, apalagi ditunjang dengan tubuh yang sangat aduhai. Adik dari istriku ini malah sebaliknya, dia menutupi kecantikannya dengan pakaian yang sangat longgar dan jilbab yang lebar. DItambah manset dan kaus kaki sehingga aku hanya bisa melihat wajahnya yang putih bersih dan telapak tangannya. Bahkan setiap aku ada di rumah dia tidak melepaskan jilbab dan kaoskakinya walau barang sebentar. Naman gadis cantik itu adalah Nurul. Kami lalui hari dengan wajar, aku bisa berangkat terlebih dahulu dengan mengantarkan istriku ke kantornya. Sedangkan Nurul terbiasa berangkat terakhir karena letak Rumah Sakit yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Walau dalam hati aku menyimpan ketertarikan pada Nurul. Aku semakin bergairah ketika melihat tingkahnya yang sopan, murah senyum, dan lenggok pinggulnya ketika berjalan walau aku yakin bukan maksud dia untuk melakukan itu. Inner beauty yang terpancar ditambah bakat kecantikan den kemolekan tubuhnya selalu ia jaga dengan baik. Katanya hanya untuk suaminya saja, bahkan dia tidak mau pacaran walau saya yakin pasti banyak laki-laki yang menginginkannya. Jilbabnya yang lebar itu tidak dapat menutupi lekukan dadanya yang membusung. Jika istriku berukuran 38 B aku taksir besar tetek adik istriku itu sekitar 36 B. Tingginya yang semampai hampir mencapai 165 cm ditunjang tubuh yang tidak kurus juga tidak gemuk membuat mata laki-laki manapun pasti akan terkesima. Apalagi jika dirumah aku sering melihatnya hanya menggunakan daster saja walau wajah dan kakinya tidak dapat aku lihat, tapi aku dapat membayangkan bagaimana tubuhnya. Terkadang ketika aku bergumul dengan istriku aku membayangkan sedang melakukan dengan Nurul, sikapnya yang tertutup pada laki-laki dan selalu menutup tubuhnya semakin membuatku penasaran. Hanya saja aku masih menghargainya sebagai adik dari istriku, dan sikapnya yang menjaga diri. Gayanya dan sikapnya yang renyah membuat siapapun jadi tidak sungkan untuk mengenalnya lebih dekat denganna walau ia tetap menjaga jarak. Suatu hari, sepulang kantor aku membuka DVD Blue Film yang baru aku pinjam dari teman kantorku, Blue Film yang aku tonton degan menggunakan komputer cukup bagus dimana Film tersebut tidak terlalu vulgar dan seronok yang membuat orang jijik. Itu membangkitkan gairahku, kudekati istriku yang sedang menonton tivi di ruang tengah, aku mulai mencumbunya dan dia pun membalas cumbuanku, tiba-tiba ku dengar pindu depan terbuka, pasti Nurul gumamku. “Tumben jam 9 baru datang Nur?” Tanya istriku, “Iya mbak, tadi praktik bedah dulu. O ya mas, boleh kan aku pakai ruang kerjanya, aku mau buat laporan” lanjut Nurul. “Silahkan aja, pakai sebabasnya dan jangan canggung disini” ujarku sambil menahan birahi yang baru saja naik. “Terima kasih ya mas” ucapnya. Setelah Nurul masuk kamar kamipun segera melanjutkan kegiatan kami dan pindah ke dalam kamar kami. Pergumulanpun semain seru karena istriku mulai mengeluarkan jurus- jurus barunya. Tapi tidak perlu ku ceritakan karena bukan ini inti cerita yang akan aku ceritakan. Setelah kami puas kamipun tertidur. Aku terbangun sekitar pukul 1 dini hari, kulihat istriku masih terlelap kelelahan tanpa sehelai benangpun disebelahku. Aku keluar kamar untuk mengambil air minum dan memeriksa kondisi rumah. Kulihat sekilas Nurul masih di ruang kerjaku dan masih di depan komputer, setelah kupastikan semua pintu terkunci dan aku mengambil segelas air. Aku mulai perhatikan Nurul yang tampaknya tidak mengetahui keberadaanku. Aku puji kecantikanya dalam hati. matanya yang lentik, bibirnya yang tipis dan menawan. Namun…tiba-tiba aku melihat sesuatu yang ganjil. Mata Nurul masih memandangi layar komputer saat itu, tapi tangannya mulai menyusup dibalik jilbabnya. Dari pergerakan tangan yang tertutup jilbabnya itu aku tahu apa yang dia lakukan. Dia meremas-remas teteknya sendiri, ku lihat matanya setengah terpejam bibirnya terbuka. mungkin dia sedang merasakan sensasi yang baru dia rasakan. “mhh.. uuhhhmmm… aaahhh….” ku dengar desahan samar dari mulutnya, aku segera bergegas ke kamar untuk mengambil Handhone ku dan segera merekam kejadian langka ini. Tangan kanan Nurul masih terus meraba teteknya, kini rabaannya kian keras dan bersemangat dan tidak hanya itu aku lihat sepintas tangannya melepas kancing daster bagian atasnya, dan aku yakin dia memasukkan tangannya ke dalam teteknya. Kejadian itu terus aku rekam. Sesekali Nurul melengguh “uuhh …aahhh… mhh… ..oohh…” matanya terus terpejam, bibir bawahnya dia gigit, terkadang kepalanya tergeleng ke kanan dan ke kiri. Ternyata tidak selesai disitu, tangan kirinya mulai menuju ke selangkangannya, dia meraba memeknya sendiri dari luar dasternya. ku lihat jari tengahnya terus menggosok bagian tengah memeknya, aku zoom kamera HPku, dan melihat secara close up apa yang sedang dia lakukan. Nurul mulai menarik dasternya ke atas, walau masih menggunkan kaus kaki mulai terlihat betis atasnya yang sangat putih, sedikit-demi sedikit daster tersebut tertarik ke atas oleh tangan kiri Nurul. Pahanya yang putih mulus mulai tersingkap, kontolku mulai tegang melihat pemandangan iu. Sampai akhirnya tangannya berhenti ketika daster mulai sampai di bagian perutnya. Dan terpampanglah celana dalam Nurul yang berwarna putih. Tangan kiri Nurul terus bergerak masuk ke dalam celana dalamnya. Ku lihat tangannya terus bergerak-gerak diantara selangkangannya. Desahannya semakin menjadi, rangsangan yang sungguh hebat membuat dia tidak merasakan keberadaanku. “Auuuuww… oohh… .ahhh… .eehhhmmm… yyaaahhh ” racaunya. Sungguh pemandangan yang belum pernah aku lihat seorang wanita berjilbab yang tengah bermasturbasi tanpa melepaskan jilbabnya. Dulu saat kuliah aku pernah mengintip anak ibu kosku yang melakukan itu, tapi itu kurang menantang karena anak ibu kos ku itu sering mengumbar auratnya dan punya affair dengan salah satu teman kosku. Tapi ini pemandangan yang berbeda dan sungguh luar biasa. Gerakan tangan kiri Nurul di memeknya semakin cepat, dan remasan tangan kanan di teteknya semakin kuat. Ingin rasanya aku membantunya, tapi masih sibuk merekam dengan kamera handphoneku. Sesaat kemudian aku lihat dia mulai menghentikan aktifitasnya, nafasnya naik turun teratur, matanya masih terpejam, tapi aku tidak tahu apakah dia telah mencapai puncak kenikamatan atau belum karena aku tidak mendengar jeritan yang biasanya menjadi ciri wanita saat orgasme. Sebelum dia sadar aku segera bergegas menuju kamarku, dan mulai mereview kembali dari HPku apa yang baru aku saksikan tadi. Tanpa sadar aku melakukannya sambil beronani, sampai orgasme beberapa kali. Aku baru menyadari DVD Blue Film yang baru aku pinjam tadi, ternyata masih tertinggal dalam komputerku, aku yakin tadi tanpa atau dengan sengaja dia melihatnya. Aku yakin karena dalam DVD itu ada adegan wanita yang melakukan masturbasi, mungkin dia mengikutinya. Keesokan paginya, semua sepertinya biasa dan nampak wajar, istriku masih sibuk berdandan, maklum dandannya bisa sampai 2 jam sendiri. Aku memulai sarapan tanpa menunggu istriku, kemudian ku lihat Nurul sudah rapih dan keluar dari kamarnya. Dia sangat cantik dengan dandanannya yang sederhana, hanya berbalut bedak tipis dan lip glose seperlunya. Tapi ini adalah pemandangan fantastis, wanita yang apa adanya aku lihat menjadi jauh lebih cantik dibandngkan yang ber- make up. Jilbab warna pink dipadu kemeja putih dan rok panjang warna senada dengan jilbabnya membuat dia semakin cantik. Diapun tanpa merasakan apapun memulai sarapan paginya. Aku membuka obrolan pagi itu “Gimana Nur? laporannya selesai semalam?”, “Sudah selesai mas, terima kasih ya ruangan dan komputernya” katanya tenang. “Ngerjain laporan atau ngerjain yang lainnya?” sindirku, Nurul langsung terdiam dan menghentikan kegiatannya yang sedang mengambil nasi dari rice cooker. Wajah putihnya mulai bersemu merah, mungkin dia mulai menyadari aku melihat apa yang dilakukannya. “Tenang saja, kita kan sama- sama dewasa, tahu sama tahu lah dan aku pun tidak akan ceritakan ini ke kakakmu” ujarku sambil ku perlihatkan hasil rekaman di HPku. Wajah Nurul semakin tegang, keringat mulai membasahi wajahnya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, aku tahu dia sedang bingung, malu, dan mungkin takut juga. “Mungkin lain kali kalu mau jangan sendiri, aku siap membantu kamu sampai kamu puas” Bisikku. Tanpa menjawab dia langsung beranjak dari kursinya dan menyambar tasnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, yang aku tahu matanya yang berbicara, matanya nampak mulai penuh dibasahi air mata yang hendak meloncat keluar. Malamnya, aku berlaku seperti biasa seperti tidak terjadi apapun. Sedangkan Nurul seperti agak sungkan dan kaku setiap bertemu denganku. “Pah, tidur yuk, mamah dah ngantuk banget nich”, “Ya sudah tidur aja dulu, nanti papah menyusul”. Setelah kulihat istriku sudah tertidur lelap, aku beranikan diri mendekati kamar Nurul, yang nampaknya masih menyala terang, sepertinya dia masih belajar. Tok… tok… tok… aku mengetuk pintu kamarnya. “Siapa?” sahutnya dari dalam, saat dia buka pintu kamarnya, aku segera mendorong pintu itu sehingga Nurul agak tersungkur kebelakang. Aku kunci dari dalam pintu kamarnya, “Mass… .mas mau apa? keluar dari kamarku”, “Kamarmu? apa kamu lupa kamu tinggal dimana?” sahutku agak tinggi, dia terdiam. “Kamu mau videomu tersebar kemana-mana? bahkan wajahmu close up di video itu, semua orang akan melihat apa yang kamu lakukan”, “A …apa mau mas?” ucapnya terbata. “Aku hanya mau kamu memuaskanku malam ini…”, “Ja… jangan mas, aku masih perawan, aku lakukan apa saja asal bukan melakukan itu”, “Buka!” perintahku ketika kontolku tepat berada di hadapan wajahnya. Dia mulai membuka celana pendek yang aku kenakan sampai ke lutut, Nurul agak terperangah meihat kontolku yang mulai tegang dan begitu menonjol seakan celana dalamku tidak sanggup memuatnya. Dengan bergetar tangannya menurunkan celana dalamku dan kemudian menurunkannya hingga ke lutut. Tampak kini dihadapannya kontolku yang telah tegak mengacung bagaikan sebuah tombak yang siap dihujamkan. Tampak ragu dia meraih kontolku dengan sambil menundukkan kepalanya. Akupun meraih tangannya yang halus, dan menyentuhkannya ke kontolku, rasanya sangat nyaman, dimana kulit lembutnya menyentuh kontolku yang sudah mengeras, kokoh, otot-otot yang keluar menambah kesan sangar. Wajahnya tertunduk dan mulai tersedu, tapi aku tak menghiraukan, aku maju mundurkan tangannya, sampai beberapa saat aku tak perlu menuntunna karena tangannya sudah faham apa yang harus dilakukannya. Nurul pun mulai berani menaikkan wajahnya dan menatap kontolku. Tak berapa saat aku merasakan sesuatu yang ingin melesak dari dalam tubuhku, sampai akhirnya…”aahh …..” aku melengguh disertai keluarnya sperma dari kontolku. “aaaauuwww ….” Nurul tersentak kaget ketika spermaku keluar. Karena dia berada tepat didepan kontolku, muncratan spermaku mengenai wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan sebagian lagi ke jilbabnya. Aku tersenyum puas lalu ku tinggalkan Nurul yang masih terpaku. Esoknya aku melakukan hal yang sama. kali ini, aku tidak perlu membentak dan memerintahkan, Nurul sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan. Walau agak ragu, dia mulai berani menurunkan celanaku sendiri, sampai celana dalamku, dan memulai belaian lembut pada kontolku. dia tidak malu dan canggung seperti kemarin walu masih nampak wajah takut dan terpaksa melakukan itu. Aku memegang tangan kanannya, sambil membiarkan tangan kirinya tetap menggenggam kontolku yang hampir tak tergenggam tangan mungilnya karena diameternya yang hampir mencapai 7 cm. AKu renggangkan telapak tangannya dan aku tuntun melakukan gerakan mengusap pada ujung kontolku, telapak tangannya mengusap dengan melakukan gerakan memutar di ujung kontolku seperti yang sering istriku lakukan. Hal ini memberiku sensasi yang lebih, apalagi yang melakukan adalah seorang wanita yang polos tentang seks, alim dan selalu berjilbab, menjaga dirinya dan menutupi tubuhnya. suatu sensasi yang sangat luar biasa. Aku kembali mencapai puncak dan memuntahkannya diwajahnya. Kegiatan itu sering kami lakukan tanpa sepengetahuan istriku sampai beberapa waktu lamanya. Pagi ini aku baru sampai dari kantor karena mendapat giliran piket, karena itu siang ini aku mendapat libur. Sampai di rumah suasana wajar setiap pagi seperti yang telah menjadi rutinitas. Istriku sudah siap berangkat ke kantor, dan taksipun telah menunggunya diluar. “Pah aku berangkat dulu ya..” sambil menciumku, tubuhnya indah dibalut blazer ketat dan rok yang sangat pendek, ahh…itu pemandangan biasa. “Mah…sekalian kunci ya pintunya” ujarku, “Nanti saja, Nurul belum berangkat, biar dia saja yang kunci pintu…” ujarnya sambil berlalu. “Hah..Nurul masih di rumah..padahal biasanya dia sudahberangkat pagi- pagi sekali” bisikku. “Kreeekkk… blak” kulihat intu kamar yang dibuka dan kemudian di tutup, ku lihat Nurul mengenakan jilbab warna puti sampai dibawah sikunya, gamis pink warna kesukaannya dan rok puti…manset dan kaos kaki putih pun sudha menghiasi lengan dan kakinya. Dia terperanjt melihatku sudah di dalam, dia langsung menundukkan wajahnya dan bergegas menuju pintu. “Nggak makan dulu Nur?” sahutku memecah keheningan,”Ngga mas..di RS aja, ngga enak sudah telat…” sambil terus menundukan wajahnya dan berlalu. “Eii… ttt…mau kemana?santai dulu di sini”, “Jangan mas…aku udah telat ke RS, nanti residentku marah” sahutnya ketakutan, “Apa peduliku…!”, langsung muncul niat di pikiranku, “Kamu mau video itu tersebar? kamu ingat? kamu tingga di rumah siapa? akan tinggal makan, tidur tinggal tidur…”, wajahnya semakin memerah sangat jelas karena
Senin, 11 Mei 2015
21.22
No comments
Motivator birahiku Di bawah ini merupakan kisah dari beberapa kisah kehidupan seksual saya yang selama ini saya tidak pernah menceritakan kepada siapapun, saya orangnya tertutup untuk soal-soal rahasia sangat saya jaga, itu komitmen saya. Saya seorang pegawai swasta yang bergerak dalam bidang komputer. Beberapa minggu yang lalu saya ditelpon melalui HP untuk memperbaiki komputer pada salah satu pelanggan yang belum saya kenal yang jelas suaranya seorang wanita, saya perkirakan berumur 25 tahunan karena suaranya sangat manja dan dewasa. Pada waktu yang ditentukan saya datangi, rumahnya tak terlalu luas tapi cukup apik penataan taman, saya pencet bel, yang keluar seorang wanita setengah tua dengan penampilan yang mempesona, dengan kulit bersih tanpa make up dan bibirnya yang sensual hingga membuat buyar konsentrasi. Setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu saya dipersilakan masuk ke ruang kerja, dimana komputer tersebut berada. Beberapa waktu berselang selesai pekerjaan saya, sebelum pamit saya menyuruh mencoba komputer tersebut apa sudah baik atau masih ada yang tertinggal. Berawal dari coba mencoba akhirnya saya jadi akrab untuk berbincang- bincang dengan wanita setengah baya, yang mengaku bernama Dewi (nama samaran). Yang ternyata seorang istri yang selalu ditinggal oleh suaminya yang gila kerja. Waktu suaminya hanya tersita oleh pekerjaan, memang soal materi selalu diberikan dengan sangat cukup tapi soal batin yang tak pernah terpikirkan oleh suaminya terhadap istrinya, saya pikir hal ini persoalan klise belaka, tetapi dampaknya sangat berarti bagi kehidupan berumah tangga. Tak terasa waktu berjalan terus seiring dengan konsultasi dewi terhadap saya tentang persoalan rumah tangganya, katanya saya dapat berbicara seperti konsultan rumah tangga, hal ini memang saya akui suatu kelebihan saya bila menghadapi wanita yang sedang dirundung musibah, tapi bukan sebagai kedok untuk berbuat yang tidak-tidak. Setelah selesai saya pamit dan memberikan No. HP saya dengan pesan bila terjadi sesuatu dan memerlukan saya hubungi saya. Beberapa hari kemudian saya ditelpon untuk bertemu disuatu tempat yang menurut saya sebagai tempat yang sangat romantis bagi dua insan yang sedang kasmaran namanya (ada aja). Mass.. kata dewi, “saya sangat berterima kasih atas konsultasinya waktu lalu”, dengan mata yang sendu dan bibir tergetar halus. “saya hanya orang biasa yang hanya dapat berbicara untuk mencari jalan keluar”jawab saya sebisanya karena dengan tatapan matanya saya dapat merasakan getaran birahi yang sangat besar. “sa..saya ingin mas temani saya untuk berbagi rasa dengan perasaan mas yang sebenarnya”..wah mati aku, akhirnya saya bimbing kedalam tempat yang nyaman dan privacy. Bagaikan seorang kekasih saya berkasi-kasihan diatas sebuah ranjang empuk dan berudara nyaman. Saya lumat bibirnya dengan penuh perasaan dan saya genggam kedua telapak tangannya sehingga kami merasakan kebersamaan yang bergelora. Lidahnya terus bergoyang didalam rongga mulut seirama dengan alunan musik bosas. Lama kami ber ciuman mesra, kurengkuh lehernya dengan jilatan halus yang merindingkan bulu kuduknya, dewi melenguh”mas terus mas jangan kecewakan saya” sebentar-bentar tanganya bergreliya ke dada dan selangkangan saya, tak tingal diam dengan gaya yang meyakinkan saya kecup putingnya dengan sedotan-sedotan kecil dan gigitan mesra, bibir saya meluncur kebawah menuju pusar, saya mainkan lidah saya dibundaran pusarnya wah wangi farfumnya menyentuh birahi saya. Tangannya merengkuh alat pitas saya yang sudah tegang, dewi kaget, masss kok besar sekali, saya bisikan, jangan takut pasti muat. Memang Dewi belum dikaruniai anak, jadi masih seperti perawan, apalagi punya suaminya tak terlalu besar. Saya jilat permukaan vaginanya, dewi bergelinjang menarik pantatnya hingga menjauhi bibir saya, saya terperajat kenapa. ?”Masss saya belum pernah seperti itu..maaf yah”, saya hanya tersenyum dan meneruskan permainan bibir kebagian betis dan seluruh paha. Beberapa waktu berselang tangannya mendekap kepala saya dengan sangat kencang seolah-olah tak mau dilepaskan, sesak napas saya.saya tau dewi sudah klimaks tapi dalam dalam benak saya ini baru permulaan. Setelah dekapannya melemah saya baringkan celentang, terhamparlah padang rumput dan pegunungan yang indah seindah tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Dengan gaya konpensional saya mulai melaksanakan tugas saya sebagai seorang lelaki, saya selipkan punya saya disela-sela bibir kemaluannya hingga ambles kepalanya, dewi menjerit kecil,..mass.. tahan mass… ngiluu…mass..terlalu besar, memang saya sadar dan tak langsung main tancap, saya tarik dan tekan secara perlahan-lahan, setelah vaginanya teradaptasi dewi berubah dengan gaya yang agresip ditekan pantatnya ke atas hingga punya saya ambles semua, saya imbangi dengan gerak-gerakan yang atraktif, saya balikkan tubuhnya, saya dibawah dan dewi di atas dengan demikian dewi lebih leluasa untuk mengekspresikan birahinya yang selama ini tertahan. Benar adanya dengan gerakan yang dasyat dewi bergerak naik turun sambil berdesis-desis hingga saya bingung membedakan antara desisan bibir bawah dengan bibir atas. Beberapa saat kemudia dewi mengejan dan menegang sambil menggigit dada saya, setelah itu saya tak mau kehilangan momen saya lakukan penyerangan dengan gaya profesional atas, bawah, depan, belakan, kiri dan kanan, hanya satu yang tak mau saya paksakan yaitu mengoral punya saya, karna saya tau dewi nanti stress, saya pikir bila nanti pada satnya tiba mungkin bukan batangnya yang dilumat tapi sekalian bijinya dan sangkarnya. Dewwii saya mau sampai nihhh.. saya keluarin dimanaaa…,Maasss di luar saja..dulu yahhhh. dengan secepat kilat saya tarik kemaluan saya dan saya keluarkan di dadanya beberapa semprotan protein meleleh diantara dua bukit dan sedikit terciprat kedagu. Setelah semprotan tak keluar, matanya terbuka dan tangannya menggenggam kemaluan saya, tanpa saya sadari dikulumnya kemaluan saya, hingga saya terperajat dan tak yakin, yah mungkin inilah yang dinamakan puncak dari birahi kaum hawa yang sudah mencapai batas ambang sehingga tak berlaku lagi rasa malu, jijik, dan kotor yang ada hanya nafsu dan nafsu. Tanpa istirahat kemaluan saya bangun kembali sehingga menegang sampai kuluman mulut dewi terasa sempit dan rongga mulutnyapun membesar. Gerakan maju mundur mengakibatkan saya bergelinjang kekanan dan kekiri sambil sesekali mencengram rambutnya yang terurai lepas. Konsentrasiku hampir terganggu dengan gerakannya yang cepat hampir klimaks saya dibuatnya, tapi sebelum itu saya lepaskan untuk mengurangi ketegangan saya, saya balik menyerang dengan jari jemari menari-nari diseputar liang vaginanya dan sesekali menggesekkan ke area G-Spot wanitanya sehingga dewi merancau tak karuan, tangannya menarik sprei hingga terlepas dari sangkutannya. semakin lama semakin dasyat pergolakan birahi saya dan dewi, saya rasakan aliran cairan hanggat membasahi jari saya dan tak mau ketinggalan moment yang indah ini saya balikan tubuhnya sehingga tengkurap dan saya tekan dengan kemaluan saya dari arah belakang, dewi meringis ” massss… pelann peeelllaaann…ngiluuuu” saya atur irama sehingga lamakelamaan menjadi asyik dan dewipun melakukan gerakan yang membuatnya bertambah assyik dan masyukk. Dadaku bergetar ketika hasrat itu akan mencapai puncak,..ku tarik kemaluanku dan kusemprotkan ke atas punggungnya dangan kedua tangan ku mencengram kedua bongkah pantatnya yang masih kencang untuk ukuran dewi. Dan lubang anusnya masih bersih tak ada tanda-tanda bekas gesekan atau luka atau penyakit wasir, nafsu saya melihatnya tapi hasrat itu saya pendam, mungkin (dalam benak saya) lain waktu dewi meminta untuk di setubuhi anusnya karena memang bila nafsu sudah datang birahipun memuncak yang pada akhirnya dunia terasa sangat-sangat indah melayang-layang dan sukar diutarakan yang ada hanya dirasakan. Kami bersetubuh dengan kemesraan hingga dua jam setengah sebanyak tiga ronde dipihak saya. Saya lihat tatapan matanya mengandung kepuasan yang sangat dasyat begitu pula saya sehingga membuat motivasi saya untuk bersetubuh dengan wanita-wanita setengah baya yang memang membutuhkan siraman biologis, karena wanita setengah baya secara teori sedang dalam puncak-puncaknya mengidamkan kepuasan birahi yang tinggi, istilahnya sedang mengalami fase puber kedua, apalagi bila sang suami tak memberikannya. Saya memang lebih menyukai wanita setengah baya dari pada ABG, karena wanita setengah baya mempunyai naluri kewanitaan yang besar sehingga dalam bersetubuh dapat saling memberikan respon yang sangat artistik bila dilakukan dengan mesra. Setelah kami mandi kamipun bergegas untuk kembali pada tugas masing- masing, dari akhir pembicaraan saya dengannya, saya dipesankan agar merahasiakan hubungan ini, setelah itu saya diselipkan sehelai cek untuk konsultasi katanya..tanpa kwitansi dan tanda terima seperti biasanya bila terjadi transaksi. Sebenarnya saya tak tega mengambil cek tersebut, karena apa yang saya lakukan dengannya adalah sama-sama iklas sehingga hubungan menjadi sangat sangat sangat asyiiiiik, tapi saya pikir uang buat dewi ngak masalah karena memang untuk biaya pengeluaran lebih kecil dari pada yang diterima dari suaminya, selain itu saya juga sedang memerlukan biaya untuk memperbaiki kendaraan saya yang secara kebetulan pada waktu itu sedang mengalami perbaikan mesin. Setelah peristiwa itu saya masih terus dihubungi bila dewi perlu, dan pernah saya dikenalkan dengan rekan-rekan yang senasib dan saya pernah dihubungi oleh teman-temanya dengan saling menjaga rahasia satu sama lain,…tapi ceritanya tak jauh beda, yang jelas saya akan rahasiakan sampai akhir hayat. Oke saya pikir cerita ini bukanlah membuka rahasia tapi hanya membagi pengalaman dalam dunia maya, dan lagi nama dan tempat adalah fiktif belaka, bila ada rekan-rekan yang berminat konsultasi dengan saya saya siapkan waktu, hubungi email saya, selanjutnya terserah anda..?dan motto saya, kerahasiaan adalah segalanya buat hidup saya. Iwan Tandayu. Tidak ada cerita serupa.
21.20
No comments
Bukan untuk anda yang dibawah umur. Perhelatan yang telah dirancang masak – masak itu berlangsung lancar. Dua jam resepsi yang persiapannya sendiri memerlukan waktu satu tahun, belum lagi puluhan kali rapat panitia, pencarian tema, seragam, pemilihan gedung, catering dan masih banyak lagi tetek bengek lainnya. Tidak terhitung pula cekcok keluarga karena beda selera (heran kan, yang menikah kami yang pengen menguasai tampilan mereka, sampai ribut – ribut segala hahaha). Yang terpenting, itu semua selesai sudah. Satu per satu keluarga yang mengantarkan ke hotel meninggalkan kami di depan pintu kamar pengantin, hingga tinggallah kami berdua. Pelan dibukanya pintu kamar sembari berkata, “after you Mrs.Pradigta” menyilakan aku masuk duluan, dan aku pun tersenyum canggung – karena inilah kali pertama aku dipanggil nyonya Pradigta :) Aku terpana melihat ruangan yang disebut kamar pengantin ini. Semua dekorasinya terlihat istimewa, kata orang seistimewa malam ini. Aura cinta terlihat di setiap sudut, mulai dari kelopak-kelopak mawar merah yang bertaburan di ujung tempat tidur, suasana temaram hingga wangi romantis ruangan yang tercium hidung ini. Kami saling pandang dan tersenyum mesra. Ditekannya beberapa tombol remote dan mengalunlah duet Bryan Adams dan Barbara Straisand. Suara merdu penyanyi kaliber papan atas tersebut menambah romantis suasana. Lembut sekali. Heeem kenapa jantungku bergetar hebat ya? Kenapa tiba – tiba aku merasa gugup. Dan ternyata aku semakin gugup tatkala dari belakang ia menurunkan resliting gaun ini, membebaskannya dari kewajiban menutupi tubuhku. Saat tangan kekarnya itu melepas pilinan tali torso yang membentuk pinggang, terpaksa aku menggigit bibir bawah karena jari-jemarinya tak sengaja menyentuh titik – titik erotis yang membuatku nafsu. Aku tak berdaya, ah ! Ingin rasanya kuminta ia cepat – cepat menciumiku. Namun ia sangat menikmati momen demi momen melucuti satu per satu pakaianku. Dan aku pun menunggu. Malam pertama dan aku yang garang, heeem sungguh tak lucu. Dan ketika tak ada lagi selembar benang pun bertengger di raga, ia memelukku dari belakang dan lambat – lambat ia menciumi tengkukku. Oh My God ! ciumannya begitu penuh kasih dan sayang namun mampu melambungkan aku ke khayangan ! Inci demi inci kulit di leher ini tak ada yang luput dari kecupan mesranya sementara tangan kekarnya mengembara ke bagian depan tubuhku. Menyentuh payudara dan meremasnya lembut. Ooh ! Aku mendesah pelan, seperti ada listrik dengan energi kecil yang menyetrum jantung. Diputarnya badanku hingga sekarang kami pun berhadapan. Ia tersenyum kagum memandang tubuh telanjangku. Temaram lampu menonjolkan siluet seksi tubuhku dan sambil menelan ludah lirih ia berkata, “kamu terlihat lebih cantik,” aku tersipu mendengar pujiannya. Tanpa banyak bicara ia mengangkat dan merebahkanku di atas ranjang. Bibir basahnya menjelajahi seluruh wajahku, seperti yang dulu biasa ia lakukan di mobil namun kali ini tak perlu kuatir kepergok tukang parkir. Ku pejamkan mataku, menikmati setiap kecupan halus di kening, di alis, di hidung, dipipi, semua lekuk di wajahku tak ada yang luput dari belai basah bibirnya. Namun itu belum seberapa, ketika lidahnya mengulum bibirku, memanjakan syaraf – syaraf halus dengan pagutan mesra yang membawaku terbang dan tangannya sibuk bergerilya mengelus-elus paha…., aku menggeliat !! Sungguh sensasi ini belum pernah aku rasa ! Puas dengan bibirku, mulutnya turun menciumi dagu, leher kemudian dadaku. Pelan, seperti kucing menjilati telapak kakinya, Ia menjilati setiap senti tubuh mulusku ! Aku merintih pelan dan ketika ia menjilati pucuk payudara ini sambil sesekali menggigitnya gemas, aku pun mengerang. Erangan penuh kenikmatan. Kalau orang bilang malam pertama adalah surga dunia, maka aku menuju kesana !! Tanganku mencengkeram pantatnya, namun aku terperanjat.Ternyata ia masih berpakaian lengkap. Dan mata kami pun beradu, seperti sadar bahwa ini bukan waktunya, teringat kesepakatan bersama bahwa kami akan melakukannya di pulau Bangka tempat cinta kami di padu dibawah bintang dan sinar rembulan. Ia pun bergegas turun. Aku melangkah gontai menuju toilet dan membersihkan diri di bawah pancuran air hangat. Sayup ku dengar ia berseru, “jangan pakai lingerie yang seksi ya, nanti aku gak kuat.” Aku tersenyum mendengarnya. Malam pertama yang tertunda demi pulau Bangka…
21.17
No comments
Motivator birahiku Di bawah ini merupakan kisah dari beberapa kisah kehidupan seksual saya yang selama ini saya tidak pernah menceritakan kepada siapapun, saya orangnya tertutup untuk soal-soal rahasia sangat saya jaga, itu komitmen saya. Saya seorang pegawai swasta yang bergerak dalam bidang komputer. Beberapa minggu yang lalu saya ditelpon melalui HP untuk memperbaiki komputer pada salah satu pelanggan yang belum saya kenal yang jelas suaranya seorang wanita, saya perkirakan berumur 25 tahunan karena suaranya sangat manja dan dewasa. Pada waktu yang ditentukan saya datangi, rumahnya tak terlalu luas tapi cukup apik penataan taman, saya pencet bel, yang keluar seorang wanita setengah tua dengan penampilan yang mempesona, dengan kulit bersih tanpa make up dan bibirnya yang sensual hingga membuat buyar konsentrasi. Setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu saya dipersilakan masuk ke ruang kerja, dimana komputer tersebut berada. Beberapa waktu berselang selesai pekerjaan saya, sebelum pamit saya menyuruh mencoba komputer tersebut apa sudah baik atau masih ada yang tertinggal. Berawal dari coba mencoba akhirnya saya jadi akrab untuk berbincang- bincang dengan wanita setengah baya, yang mengaku bernama Dewi (nama samaran). Yang ternyata seorang istri yang selalu ditinggal oleh suaminya yang gila kerja. Waktu suaminya hanya tersita oleh pekerjaan, memang soal materi selalu diberikan dengan sangat cukup tapi soal batin yang tak pernah terpikirkan oleh suaminya terhadap istrinya, saya pikir hal ini persoalan klise belaka, tetapi dampaknya sangat berarti bagi kehidupan berumah tangga. Tak terasa waktu berjalan terus seiring dengan konsultasi dewi terhadap saya tentang persoalan rumah tangganya, katanya saya dapat berbicara seperti konsultan rumah tangga, hal ini memang saya akui suatu kelebihan saya bila menghadapi wanita yang sedang dirundung musibah, tapi bukan sebagai kedok untuk berbuat yang tidak-tidak. Setelah selesai saya pamit dan memberikan No. HP saya dengan pesan bila terjadi sesuatu dan memerlukan saya hubungi saya. Beberapa hari kemudian saya ditelpon untuk bertemu disuatu tempat yang menurut saya sebagai tempat yang sangat romantis bagi dua insan yang sedang kasmaran namanya (ada aja). Mass.. kata dewi, “saya sangat berterima kasih atas konsultasinya waktu lalu”, dengan mata yang sendu dan bibir tergetar halus. “saya hanya orang biasa yang hanya dapat berbicara untuk mencari jalan keluar”jawab saya sebisanya karena dengan tatapan matanya saya dapat merasakan getaran birahi yang sangat besar. “sa..saya ingin mas temani saya untuk berbagi rasa dengan perasaan mas yang sebenarnya”..wah mati aku, akhirnya saya bimbing kedalam tempat yang nyaman dan privacy. Bagaikan seorang kekasih saya berkasi-kasihan diatas sebuah ranjang empuk dan berudara nyaman. Saya lumat bibirnya dengan penuh perasaan dan saya genggam kedua telapak tangannya sehingga kami merasakan kebersamaan yang bergelora. Lidahnya terus bergoyang didalam rongga mulut seirama dengan alunan musik bosas. Lama kami ber ciuman mesra, kurengkuh lehernya dengan jilatan halus yang merindingkan bulu kuduknya, dewi melenguh”mas terus mas jangan kecewakan saya” sebentar-bentar tanganya bergreliya ke dada dan selangkangan saya, tak tingal diam dengan gaya yang meyakinkan saya kecup putingnya dengan sedotan-sedotan kecil dan gigitan mesra, bibir saya meluncur kebawah menuju pusar, saya mainkan lidah saya dibundaran pusarnya wah wangi farfumnya menyentuh birahi saya. Tangannya merengkuh alat pitas saya yang sudah tegang, dewi kaget, masss kok besar sekali, saya bisikan, jangan takut pasti muat. Memang Dewi belum dikaruniai anak, jadi masih seperti perawan, apalagi punya suaminya tak terlalu besar. Saya jilat permukaan vaginanya, dewi bergelinjang menarik pantatnya hingga menjauhi bibir saya, saya terperajat kenapa. ?”Masss saya belum pernah seperti itu..maaf yah”, saya hanya tersenyum dan meneruskan permainan bibir kebagian betis dan seluruh paha. Beberapa waktu berselang tangannya mendekap kepala saya dengan sangat kencang seolah-olah tak mau dilepaskan, sesak napas saya.saya tau dewi sudah klimaks tapi dalam dalam benak saya ini baru permulaan. Setelah dekapannya melemah saya baringkan celentang, terhamparlah padang rumput dan pegunungan yang indah seindah tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Dengan gaya konpensional saya mulai melaksanakan tugas saya sebagai seorang lelaki, saya selipkan punya saya disela-sela bibir kemaluannya hingga ambles kepalanya, dewi menjerit kecil,..mass.. tahan mass… ngiluu…mass..terlalu besar, memang saya sadar dan tak langsung main tancap, saya tarik dan tekan secara perlahan-lahan, setelah vaginanya teradaptasi dewi berubah dengan gaya yang agresip ditekan pantatnya ke atas hingga punya saya ambles semua, saya imbangi dengan gerak-gerakan yang atraktif, saya balikkan tubuhnya, saya dibawah dan dewi di atas dengan demikian dewi lebih leluasa untuk mengekspresikan birahinya yang selama ini tertahan. Benar adanya dengan gerakan yang dasyat dewi bergerak naik turun sambil berdesis-desis hingga saya bingung membedakan antara desisan bibir bawah dengan bibir atas. Beberapa saat kemudia dewi mengejan dan menegang sambil menggigit dada saya, setelah itu saya tak mau kehilangan momen saya lakukan penyerangan dengan gaya profesional atas, bawah, depan, belakan, kiri dan kanan, hanya satu yang tak mau saya paksakan yaitu mengoral punya saya, karna saya tau dewi nanti stress, saya pikir bila nanti pada satnya tiba mungkin bukan batangnya yang dilumat tapi sekalian bijinya dan sangkarnya. Dewwii saya mau sampai nihhh.. saya keluarin dimanaaa…,Maasss di luar saja..dulu yahhhh. dengan secepat kilat saya tarik kemaluan saya dan saya keluarkan di dadanya beberapa semprotan protein meleleh diantara dua bukit dan sedikit terciprat kedagu. Setelah semprotan tak keluar, matanya terbuka dan tangannya menggenggam kemaluan saya, tanpa saya sadari dikulumnya kemaluan saya, hingga saya terperajat dan tak yakin, yah mungkin inilah yang dinamakan puncak dari birahi kaum hawa yang sudah mencapai batas ambang sehingga tak berlaku lagi rasa malu, jijik, dan kotor yang ada hanya nafsu dan nafsu. Tanpa istirahat kemaluan saya bangun kembali sehingga menegang sampai kuluman mulut dewi terasa sempit dan rongga mulutnyapun membesar. Gerakan maju mundur mengakibatkan saya bergelinjang kekanan dan kekiri sambil sesekali mencengram rambutnya yang terurai lepas. Konsentrasiku hampir terganggu dengan gerakannya yang cepat hampir klimaks saya dibuatnya, tapi sebelum itu saya lepaskan untuk mengurangi ketegangan saya, saya balik menyerang dengan jari jemari menari-nari diseputar liang vaginanya dan sesekali menggesekkan ke area G-Spot wanitanya sehingga dewi merancau tak karuan, tangannya menarik sprei hingga terlepas dari sangkutannya. semakin lama semakin dasyat pergolakan birahi saya dan dewi, saya rasakan aliran cairan hanggat membasahi jari saya dan tak mau ketinggalan moment yang indah ini saya balikan tubuhnya sehingga tengkurap dan saya tekan dengan kemaluan saya dari arah belakang, dewi meringis ” massss… pelann peeelllaaann…ngiluuuu” saya atur irama sehingga lamakelamaan menjadi asyik dan dewipun melakukan gerakan yang membuatnya bertambah assyik dan masyukk. Dadaku bergetar ketika hasrat itu akan mencapai puncak,..ku tarik kemaluanku dan kusemprotkan ke atas punggungnya dangan kedua tangan ku mencengram kedua bongkah pantatnya yang masih kencang untuk ukuran dewi. Dan lubang anusnya masih bersih tak ada tanda-tanda bekas gesekan atau luka atau penyakit wasir, nafsu saya melihatnya tapi hasrat itu saya pendam, mungkin (dalam benak saya) lain waktu dewi meminta untuk di setubuhi anusnya karena memang bila nafsu sudah datang birahipun memuncak yang pada akhirnya dunia terasa sangat-sangat indah melayang-layang dan sukar diutarakan yang ada hanya dirasakan. Kami bersetubuh dengan kemesraan hingga dua jam setengah sebanyak tiga ronde dipihak saya. Saya lihat tatapan matanya mengandung kepuasan yang sangat dasyat begitu pula saya sehingga membuat motivasi saya untuk bersetubuh dengan wanita-wanita setengah baya yang memang membutuhkan siraman biologis, karena wanita setengah baya secara teori sedang dalam puncak-puncaknya mengidamkan kepuasan birahi yang tinggi, istilahnya sedang mengalami fase puber kedua, apalagi bila sang suami tak memberikannya. Saya memang lebih menyukai wanita setengah baya dari pada ABG, karena wanita setengah baya mempunyai naluri kewanitaan yang besar sehingga dalam bersetubuh dapat saling memberikan respon yang sangat artistik bila dilakukan dengan mesra. Setelah kami mandi kamipun bergegas untuk kembali pada tugas masing- masing, dari akhir pembicaraan saya dengannya, saya dipesankan agar merahasiakan hubungan ini, setelah itu saya diselipkan sehelai cek untuk konsultasi katanya..tanpa kwitansi dan tanda terima seperti biasanya bila terjadi transaksi. Sebenarnya saya tak tega mengambil cek tersebut, karena apa yang saya lakukan dengannya adalah sama-sama iklas sehingga hubungan menjadi sangat sangat sangat asyiiiiik, tapi saya pikir uang buat dewi ngak masalah karena memang untuk biaya pengeluaran lebih kecil dari pada yang diterima dari suaminya, selain itu saya juga sedang memerlukan biaya untuk memperbaiki kendaraan saya yang secara kebetulan pada waktu itu sedang mengalami perbaikan mesin. Setelah peristiwa itu saya masih terus dihubungi bila dewi perlu, dan pernah saya dikenalkan dengan rekan-rekan yang senasib dan saya pernah dihubungi oleh teman-temanya dengan saling menjaga rahasia satu sama lain,…tapi ceritanya tak jauh beda, yang jelas saya akan rahasiakan sampai akhir hayat. Oke saya pikir cerita ini bukanlah membuka rahasia tapi hanya membagi pengalaman dalam dunia maya, dan lagi nama dan tempat adalah fiktif belaka, bila ada rekan-rekan yang berminat konsultasi dengan saya saya siapkan waktu, hubungi email saya, selanjutnya terserah anda..?dan motto saya, kerahasiaan adalah segalanya buat hidup saya. Iwan Tandayu. Tidak ada cerita serupa.
Sabtu, 14 Maret 2015
10.30
No comments
aku lihat Rifqoh masuk ke kamar mandi tiba-tiba timbul niat isengku untuk ngintip cewek akhwat aktivis ini mandi. Aku masih ingat waktu itu Rifqoh masuk ke kamar mandi pakai jubah panjang biru kembang, pakai jilbab gede warna putih, pakai kaus kaki juga sambil bawa handuk dan gayung berisi alat-alat mandi. Lewat lubang kecil di kamar mandi, aku liat Rifqoh melepas semua kain yang melekat di badannya. Mulai dari kaus kakinya, lalu jilbab putihnya yang lebar, lalu jubah panjangnya terus BH dan celana dalam krem yang dipakainya. Waktu itu aku hanya ternganga melihat tubuh bugil akwat aktivis yang biasanya aku lihat dalam keadaan tertutup rapat kecuali wajahnya dan tangannya aja. Waktu itu, baru pertama kalinya aku liat cewek bugil tanpa busana selembar benangpun secara live selain di internet atau VCD. Aku memang punya istri, tapi aku gak nyangka kalau dalam keadaan telanjang bulat Rifqoh begitu mulus tanpa cacat. Aku nyaris nggak percaya waktu pertama kali liat Rifqoh bugil bulat seperti itu. Rifqoh ternyata mempunyai kulit yang putih mulus. Semula aku menyangka istriku lebih putih dari Rifqoh kulitnya, tapi setelah liat cewek akhwat aktivis ini bugil aku baru tahu kalo kulit Rifqoh tuh lebih putih dan mulus dari kulit istriku mungkin kulitnya ketutupan terus sih walaupun istriku juga akhwat berjilbab seperti Rifqoh. Body Rifqoh juga ok banget, malah kayaknya body istriku yang lebih muda kalah dengan cewek alim berjilbab lebar ini. Rambut Rifqoh panjang ikal hitam, wajahnya manis, susunya tampak penuh mungkin ukurannya 34C dengan puting yang kecoklatan, perutnya rata dengan pinggul yang besar, memeknya montok dan tampak menonjol di antara kedua pahanya namun bulunya abis dicukur bersih hingga kayak memek bayi, pahanya bulet padet dengan betis yang mbunting padi, pantatnya juga montok dan besar. Aku yang semula nggak nyangka bakal liat Rifqoh bugil gini, akhirnya horny juga. Nggak nyangka bisa liat body sintal cewek alim aktivis Partai kayak Rifqoh ini. Tapi yang bikin aku sangat kaget, ketika Rifqoh baru beberapa kali mengguyur badannya dengan air, tiba-tiba akhwat aktivis ini menggosok-gosok memeknya dengan tangannya. Tubuhnya mulai menggelinjang dengan desahan yang keluar dari mulutnya. Ekspresi wajahnya nampak merasakan kenikmatan, sementara aku liat bibir memeknya tampak menjadi kemerahan oleh gosokan tengannya bahkan jarinya juga memilin-milin kelentitnya. Aku menjadi sangat terangsang melihat keadaan ini sehingga aku juga ikut mengocok penisku. Mungkin sekitar 5 menit baru aku liat Rifqoh seperti menjerit tertahan dengan nafas yang terengah, mungkin dia sudah klimaks. Setelah tampak lemas beberapa saat cewek aktivcis ini meneruskan mandinya. Waktu itu aku juga ikut ngocok liat Rifqoh masturbasi sampai muncrat mani. Sejak saat itu, aku jadi ketagihan mengintip Rifqoh mandi. Sayang sisa KKN cuman seminggu habis itu kita harus balik ke Bandung lagi. Tapi dalam seminggu itu, tiap sore aku ngintip Rifqoh mandi sore dan dari 7 kali
ngintip, 4
kalinya aku liat Rifqoh masturbasi di
kamar mandi.
Sampai saat itu Rifqoh nggak tahu
kalau waktu KKN, aku suka ngintip
dia waktu mandi dan masturbasi di
kamar mandi. Cewek aktivis Partai
yang berwajah lembut dan manis
itu tetep terlihat kalem, tampak
alim dengan pakaian panjang dan
jilbab lebar yang menutup tubuhnya
dan tetap jaga jarak dari cowok.
Cuman aku dah tahu rahasia cewek
alim berjilbab yang satu ini, kalau
cewek ini punya nafsu yang tinggi…
habis itu aku sering berpikir
jangan-jangan kebanyakan cewek
akhwat aktivis seperti Rifqoh.
Uhhhh bikin horny jadinya neh. Saat
dia masturbasi sewaktu mandi ke 4
kalinya keadaan sepi sebab para
mahasiwa dan mahasiswi sedang
ada urusan ke kota sejak siang
tadi. Maka sore itu aku bertekat
untuk memperkosa akhwat berjilbab
lebar alim yang masih perawan ini.
Aku seperti biasa kembali mengintip
Rifqoh mandi. Rifqoh kembali
menjalankan aksinya, ketika
tubuhnya mulai menggelinjang dengan
desahan yang keluar dari mulutnya
aku memotret Rifqoh yang sedang
telanjang bulat itu. Sesudah
orgasme Rifqoh kembali mengenakan
jubah panjangnya yang biru dan
jilbab lebarnya yang berwarna putih
tapi dia nggak pakai lagi BH dan
celana dalam. Mungkin masih
terangsang berat akhwat aktivis
yang alim ini.
Dia membuka pintu kamar mandi
dan keluar. Rifqoh kaget waktu
melihat aku sudah di depan pintu
kamar mandi itu, pada waktu aku
mengintip Rifqoh beberapa kali
sebelumnya aku sudah pergi sebelum
Rifqoh sempat melihatku. Tapi kali
ini aku nggak pergi sebab aku
bertekat ingin menyetubuhi cewek
alim berjilbab dan cantik serta
berbodi padat ini. Aku memegang
tangan Rifqoh yang alim ini. Dia coba
lepaskan pegangan tanganku tapi
aku memegang dengan kuat hingga
Rifqoh nggak bisa lepas tangannya.
“Sedang ngapain tadi di dalam?
Rifqoh terangsang ya?” tanyaku
dengan senyum dan setengah
mengancam.
Rfqoh menggeleng sambil tersenyum
di balik jilbabnya. Mata wanita alim
berjilbab lebar ini sempat
memperhatikan situasi di luar
kamar mandi sesaat dan dia tidak
melihat seorang pun di situ.
“Tapi aku punya fotonya mbak
Rifqoh…” lanjutku sambil memandang
sekujur tubuh Rfqoh yang berbalut
jubah panjang itu.
Lalu kutunjukkan foto Rifqoh dalam
keadaan bugil bulat dalam kamera
HP ku. Wanita berjilbab lebar ini
hanya menggeleng-gelengkan kepala
sambil tersenyum dengan pipi
bersemu merah yang jelas terlihat
olehku karena lampu sedang menyala
di depan kamar mandi itu.
“Nggak papa kok Pak…. nggak papa”
ujar Rifqoh dengan muka tertunduk.
Aku masih sempat memperhatikan
Rifqoh beberapa saat. Jubah warna
biru yang dipakai akhwat aktivis ini
belakangnya namun aku punya
senjata untuk menaklukkan akhwat
cantik ini, selain foto itu bisa
kupakai sebagai ancaman aku juga
pengalaman bagaimana mengentot
wanita, apalagi kalau yang mudah
horny kayak Rifqoh ini.
“Ya kalo nggak papa.. terserah saja
gimana kalau fotomu ini aku sebar
di internet sayang?” tanyaku dengan
setengah mengancam akhwat cantik
yang alim ini.
Rifqoh terlihat serba salah dengan
ancamanku. Sementara jantungku
berdegup kencang melihat pantat
montok wanita berjilbab ini terlihat
semakin membukit menggiurkan
karena jubah bagian bawahnya tadi
basah tersiram air di dalam kamar
mandi.
“Ouhh… gila pantatnya memang
merangsang..” desisku dengan mata
lekat memandang Rifqoh terutama
bagian pantatnya.
Pantat Rifqoh yang besar dan
montok memang terlihat jelas
ketika dia memakai jubah yang
masih basah seperti saat ini. Jubah
warna biru yang dipakai akhwat
alim yang cantik ini yang basah
pada bagian pantat tersebut
membuat pantat bahenol aktivis
Patrai semakin jelas terlihat lebih-
lebih tanpa celana dalam. Tak lama
kemudian penisku ini mulai
menggeliat melihat pantat montok
wanita berjilbab yang merangsang
ini. Rifqoh tidak menyadari bahwa
dirinya telah membuat diriku yang
kini sedang memegang tangannya di
dekat pintu kamar mandi
terangsang. Aku makin bernafsu dan
berulang kali menelan ludah menahan
libido birahi melihat dan memegang
tangan Rifqoh yang memiliki pantat
besar dan montok, walaupun pantat
wanita berjilbab lebar ini masih
tertutup jubah panjang. Dalam jarak
yang sangat dekat itu, mata ku
nyaris tak berkedip melihat
kemontokan pantat Rifqoh yang
terpampang di depan mata.
Meskipun pantat wanita berjilbab
lebar ini masih tertutup jubah
warna biru, namun bentuk pantat
akhwat mahasiswi cantik yang
bundar dan bahenol ini tak dapat
disembunyikan jubah tersebut
apalagi jubah tersebut dalam
keadaan basah. Belahan pantat
Rifqoh dan bentuk pantatnya yang
tanpa celana dalam itu terlihat
begitu jelas dalam balutan jubah
warna biru yang masih basah
tersebut. Aku menjilat bibirku
menahan hasrat birahi menjilat
kemontokan pantat wanita berjilbab
lebar yang alim ini. Aku kemudian
menarik bagian bawah jubah panjang
Rifqoh ke atas sehingga separuh
betisnya yang masih terbungkus
kaus kaki itu terlihat oleh diriku.
Saat aku melihat betis Rifqoh yang
indah walaupun masih terlihat
separuhnya kemudian melihat ujung
jubah yang kutarik ke atas, timbul
keinginan pada dirinya untuk
menyingkap jubah tersebut kian ke
atas.
Aku yang mulai dilanda birahi ini
melihat ke sekitar yang memang
sedang tidak ada orang lainnya dan
akhirnya aku menarik dan memaksa
Rifqoh masuk kamar di rumah
penginapan para mahasiswa KKN
yang tidak jauh dari kamar mandi
itu. Tanpa berpikir panjang, aku
segara mendorong tubuh akhwat
berjilbab yang montok dan padat itu
masuk kamar itu. Lalu dengan hati-
hati aku mengulurkan tanganku ke
ujung jubah Rifqoh. Bibirku
menyeringai ketika aku mulai
mengangkat ujung jubah yang
dipakai akhwat ini kian ke atas
dengan tanganku. Rasa penasaran
dan birahi terhadap tubuh wanita
berjilbab lebar yang selalu tertutup
rapat ini terutama pantat yang
bahenol itu, membuat aku begitu
bernafsu menyingkap jubah Rifqoh.
Mataku melotot ketika sebagian
tubuh Rifqoh yang selama ini
tersembunyi dalam pakaian yang
rapat tertutup, mulai terlihat dari
dekat bersamaan dengan
tersingkapnya jubah yang dipakai
wanita berjilbab lebar ini. Bentuk
sepasang betis wanita berjilbab
lebar asal Sumedang ini sangat
indah namun sayang betis indah ini
masih terbungkus kaus kaki yang
membungkus hingga mendekati
lututnya membuat aku tidak bisa
menikmati kemulusan betis wanita
berusia 26 tahun ini.
Aku kian bernafsu untuk
mengangkat ujung jubah itu kian ke
atas dan perlahan kemudian paha
putih mulus wanita berjilbab lebar
ini mulai terlihat yang membuat
libidoku kian menggelegak. Nafasku
mulai tersengal menahan birahinya
melihat pemandangan indah di depan
matanya yang merangsang birahinya.
Sepasang paha wanita berjilbab
lebar yang terlihat putih mulus dan
sangat menggiurkan. Paha Rifqoh
yang putih mulus itu terlihat
sangat kontras dengan warna kaus
kaki yang membungkus betisnya.
Baru kali ini aku melihat kemulusan
paha wanita yang nyaris tanpa
cacat seperti paha Rifqoh ini.
Sebuah keberuntungan yang
teramat langka bisa melihat
kemulusan paha seorang wanita
berjilbab lebar yang alim seperti
Rifqoh ini. Tanganku terus
menyingkap jubah panjang yang
dipakai akhwat alim ini kian ke atas.
Kain jubah panjang itu kian
terangkat kian tinggi hingga
beberapa saat kemudian memek
wanita berjilbab lebar yang tanpa
celana dalam mulai terlihat. Dengan
libido yang kian menggelegak, aku
mengangkat jubah panjang Rifqoh
kian ke atas dan sekejap kemudian
ujung jubah yang dikenakan akhwat
alim ini tersingkap nyaris ke
pinggang wanita ini sehingga seluruh
memek dan pantat akhwat berjilbab
lebar ini kini terpampang di depan
mata keduaku.
Mulutku menyeringai penuh nafsu
sementara mataku nyaris tak
berkedip memandang pantat Rifqoh
yang mulus dan montok dengan
keadaan tanpa celana dalam sama
sekali. Ketika pantat Rifqoh yang
montok dan besar dalam keadaan
tertutup jubah panjang, telah
membuat para lelaki terangsang dan
ingin meremasnya, apalagi saat
pantat wanita berjilbab lebar ini
terlihat tanpa tertutup oleh celana
dalam seperti yang aku lihat
sekarang. Belahan pantat yang
menggiurkan itu terlihat sangat
jelas dan merangsang birahi bahkan
karena posisi Rifqoh yang aku suruh
membungkuk sedikit menungging
menyebabkan pantat akhwat Partai
ini kian terlihat montok membukit
dan merangsang birahiku.
Bahkan ketika mataku menyusuri
belahan pantat tersebut hingga ke
arah kemaluan wanita berjilbab
lebar ini, aku jelas melihat belahan
kemaluan akhwat alim ini. Gundukan
kemaluan Rifqoh tidak terbalut
celana dalam terlihat membukit
mulus tanpa bulu membuat libidoku
ini menggelegak. Bulu-bulu kemaluan
Rifqoh ternyata tidak terlihat
sebab telah habis dicukur oleh
wanita berjilbab lebar asal
Sumedang ini. Rifqoh masih belum
menunjukkan reaksi perlawanan
atas ulahku kepada dirinya karena
dia kayaknya masih terangsang
dengan masturbasi yang tadi
dilakukannya di dalam kamar mandi.
Aku memang sudah tak mampu
menahan birahiku melihat
pemandangan menggiurkan yang
terpampang di depan mataku.
Dengan penuh birahi, tanganku
terulur menyentuh belahan kemaluan
wanita berjilbab lebar ini lantas
dengan penuh birahi bukit kemaluan
yang tanpa terbungkus celana dalam
itu kuremas-remas. Rifqoh terlonjak
kaget luar biasa, ketika wanita
berjilbab lebar ini merasakan ada
tangan yang meremas-remas bukit
kemaluannya. Secara refleks Rifqoh
menegakkan tubuhnya sambil
berusaha menepis tanganku yang
tengah meremas kemaluannya.
Dengan rasa terkejut yang luar
biasa, wanita berjilbab lebar ini
memandangku.
“Ahhhhh….” Rifqoh memekik dengan
mata membelalak ketika wanita
berjilbab lebar ini menyadari jubah
yang dipakainya telah disingkap
hingga terlihat memek dan
pantatnya dan wanita berjilbab
lebar ini melihat aku sedang
menyeringai penuh nafsu ketika
menyingkap jubahnya.
Wajah Rifqoh yang cantik tertutup
jilbab lebarnya dan sepasang
matanya yang bulat menyorot diriku
dengan penuh kemarahan yang
bercampur dengan kekagetan luar
biasa.
“Mau apa Pak?” bentak Rifqoh dengan
nada bergetar menahan kemarahan.
Mata wanita berjilbab lebar ini
berkilat-kilat penuh kemarahan dan
rasa terhina. Tubuh wanita berjilbab
lebar ini menggigil menahan
kemarahan dan rasa terhina, namun
aku yang tengah dilanda birahi
hanya terkekeh sambil terus
memeluk pinggang akhwat aktivis
ini.
“Jangan macam-macam.. Pak.. bapak
kan sudah punya istri!” Kembali
Rifqoh membentak diriku lagi namun
bentakannya kali ini mulai diliputi
rasa takut.
Wanita berjilbab lebar ini memang
tidak perlu jawaban dariku di kamar
penginapan mahasiswa tersebut.
Wanita berjilbab lebar ini beruasaha
melepaskan diri ketika aku makin
memperkuat pelukanku. Sorot mata
Rifqoh dari balik jilbabnya yang
semula menyiratkan kemarahan dan
kebencian mulai berubah menjadi
sorot mata ketakutan dan
kecemasan. Rifqoh tidak menduga
akan ada seorang dosen seperti
diriku yang berani berbuat kurang
ajar kepadanya, namun wanita
berjilbab lebar ini tidak sempat
memikirkan hal itu lebih lama
karena aku mendesaknya menuju
kasur tempat tidur kamar itu
sambil tertawa. Wanita berjilbab
lebar ini mencoba berontak
melepaskan diri namun akhirnya dia
tersudut di kasur tempat tidur.
“Jangaaaan.. jangaaaan..” pinta Rifqoh
dengan nada gemetar.
Kemarahan wanita berjilbab lebar ini
telah berganti dengan ketakutan.
Nada suara Rifqoh mulai menghiba
ketika dia melihat tidak ada cara
untuk lolos dari diriku bertubuh
kuat ini yang tengah dilanda birahi.
Mata wanita berjilbab lebar yang
jadi akhwat aktivis tampak mulai
berair sedangkan tubuhnya tampak
gemetar ketakutan. Aku yang
tengah dilanda birahi seakan tidak
mendengar suara Rifqoh yang
menghiba ketakutan ini. Aku
terkekeh-kekeh melihat Rifqoh
tersudut ketakutan di kasur kamar
itu.
Libidoku kian menggelegak sehingga
dengan cepat, aku memeluk lebih
erat wanita berjilbab lebar yang
telah merangsang birahiku ini.
“Jangaaan… tidaaaaak” jerit Rifqoh
ketika aku memeluknya.
Wanita berjilbab lebar ini meronta-
ronta dengan panik. Rifqoh
menjerit-jerit panik ketakutan
sambil meronta-ronta berusaha
lepas dari pelukanku ini, tangan
wanita berjilbab lebar ini mencakar-
cakar diriku dengan kalap. Baginya
lebih baik mati daripada
kehormatannya sebagai seorang
wanita alim berjilbab lebar dinodai
oleh laki-laki terlebih oleh diriku
yang dia tahu sudah punya istri dan
anak. Rifqoh terus menjerit-jerit
minta dilepaskan. Tubuh wanita
berjilbab lebar ini meronta-ronta
dengan kuat dalam pelukanku. Namun
apalah arti tenaga seorang wanita
seperti Rifqoh dibanding tenaga
seoarang laki-laki bertubuh kekar
seperti diriku. Walaupun tinggi
badanku hanya berbeda 2 cm lebih
tinggi dari Rifqoh, namun tubuhku
cukup kuat, maka dalam sekejap
aku mampu mengatasi perlawanan
wanita berjilbab lebar yang telah
merangsang birahiku ini. Tubuh
Rifqoh hanya mampu mengejang
ketika kemudian tanganku kembali
meremas-remas pantatnya yang
montok dan ketika tangan itu mulai
menyingkap jubahnya ke atas hingga
terlihat pantatnya yang tanpa
terbalut celana dalam, wanita
berjilbab ini hanya mampu menangis
sambil memohon untuk dilepaskan.
“Ahhhh. Jangaaaan!” Rifqoh terpekik
ketika kemudian dengan kasar
tanganku kembali meremas-remas
memek akhwat alim ini.
Tubuh wanita berjilbab lebar ini
menggigil menahan rasa malu yang
belum pernah dirasakan sebelumnya.
Namun aku memang telah dikuasai
nafsu birahi. Melihat pantat mulus
Rifqoh yang telanjang, mataku
melotot dengan mulut yang
menyeringai liar penuh nafsu
melihat pantat wanita berjilbab ini.
Aku adalah seorang laki-laki yang
mempunyai pengalaman dengan
wanita sebab aku sudah punya istri,
namun baru kali ini aku melihat
pantat wanita yang demikian putih
mulus dan montok menggiurkan. Aku
menyeringai sambil mengelus-elus
pantat telanjang Rifqoh yang putih
mulus di depanku.
Nafsu birahiku semakin menggelegak
sehingga dengan bernafsu aku kini
meremas-remas pula tetek Rifqoh
yang masih kencang karena belum
pernah dijamah tangan laki-laki itu.
Berulangkali Rifqoh menghiba minta
dilepaskan namun aku yang telah
dipenuhi dengan nafsu birahi ini
seakan tidak mendengarnya. Aku
memang terangsang hebat, penisku
tegang mengeras dan nafasku
mendengus liar di sela-sela belahan
paha wanita berjilbab lebar ini.
Ketika kepalaku sudah berada di
antara dua paha Rifoqh, aku
merenggangkan kedua paha wanita
berjilbab lebar ini. Rifqoh masih
berusaha melawan ketika pahanya
hendak kurenggangkan dengan tetap
berusaha untuk mengatup, namun
akhirnya wanita berjilbab lebar ini
menyerah oleh keinginanku.
“Jangaaan… ahhhhhh” pekik Rifqoh
dengan tubuh menggelinjang ketika
wanita alim berjilbab lebar ini
merasakan jilatan lidahku mulai
menyusuri belahan kemaluannya yang
masih rapat itu dengan bulu-bulu
kemaluannya yang telah dicukur
habis.
“Hmm.. Jembutnya dicukur ya… wanita
berjilbab memang jembutnya dicukur
habis aku suka memekmu sayang….
wangi sih..” ujarku menghentikan
jilatanku sebentar.
Bukit kemaluan Rifqoh yang montok.
Gundukan kemaluannya putih mulus
kemerahan. Rifqoh yang masih
tertutup jilbab lebar memerah
mendengar komentarku mengenai
memeknya, namun akhwat aktivis
Partai hanya terdiam. Rifqoh sudah
merasa putus asa sehingga ketika
aku membalikkan badannya, wanita
berjilbab lebar ini hanya bisa pasrah.
Akhwat alim ini memang tidak lagi
melihat jalan keluar dari
cengkramanku, hanya sebuah
keajaiban yang bisa menyelamatkan
dari birahiku ini. Rifqoh mengigit
bibirnya kuat-kuat ketika aku
jongkok di depannya lantas
membenamkan wajahku ke arah
selangkangannya. Yang aku adalah
kemaluan Rifqoh. Gundukan kemaluan
wanita berjilbab lebar ini terlihat
membukit di tengah selangkangannya
yang tanpa bulu dan memeknya
berwarna putih kemerahan. Aku
menempelkan wajahku di tengah
selangkangan Rifqoh lantas dengan
bernafsu dia menciumi bagian tubuh
wanita alim yang paling pribadi ini.
Rifqoh hanya mampu menggelinjang
ketika kemaluannya kuciumi dan
lantas dijilati oleh lidahku, sehingga
tidak berapa lama kemudian
kemaluan wanita berjilbab lebar
yang tanpa bulu kemaluan itu
terlihat basah oleh jilatanku.
Tubuh Rifqoh semakin menggelinjang
jalang dan mulut di balik jilbab itu
mendesis ketika kemudian aku
melumat bibir memeknya yang
merekah kemerahan dengan liar
penuh birahi. lantas mengunyah-
ngunyah bukit kemaluan yang
montok itu.
“Ahhhh.. jangaaaan… ahhhh” rintih
Rifqoh dari balik jilbab lebarnya yang
membuat aku semakin bernafsu.
Semula Rifqoh berusaha sekuat
tenaga agar dia tidak terangsang
oleh permainan lidahku, tapi akhwat
aktivis Partai ini memang mudah
terangsang dan tak mampu
membendung birahinya oleh
rangsanganku. Akhirnya tubuh
wanita berjilbab lebar ini
menggelinjang hebat ketika aku
menguak bibir kemaluannya lalu
dengan cara yang luar biasa aku
menghisap kelentit akhwat cantik
ini dengan kuat.
“Ahhhhhhhhhhhhhh..” rintih Rifqoh yang
masih memakai jilbab lebar ini.
Ketika aku kembali mengulang-ulang
hisapan yang luar biasa terhadap
kelentit Rifqoh, wanita berjilbab
lebar ini hanya bisa merintih-rintih
dan mendesah penuh birahi dengan
desahan yang merangsang libido.
Tubuh wanita berjilbab lebar ini
menggelinjang-gelinjang liar dan tak
lama kemudian kemaluan akhwat
aktivis ini menjadi basah kuyup oleh
cairan yang keluar seiring
kenikmatan yang dirasakannya.
Selama hidupnya baru kali ini Rifqoh
diperlakukan seperti ini dan baru
pertama kali ini wanita berjilbab
lebar ini mendapat kenikmatan yang
luar biasa seperti sekarang ini.
Tubuh Rifqoh terduduk di kasur
kamar itu. Kedua tangannya yang
semula bertumpu pada kasur
menahan tubuhnya yang mulai
menggelinjang, namun karena
dorongan birahi yang dirasakannya
salah satu tangan wanita berjilbab
lebar ini kemudian memegang
kepalaku dan menekan kepalaku
kuat-kuat ke arah selangkangannya.
Sebuah pemandangan yang teramat
langka ketika seorang wanita cantik
berjubah panjang dan berjilbab lebar
dengan jubah panjang yang
tersingkap sementara seorang laki-
laki membenamkan wajahnya di
tengah-tengah selangkangan wanita
berjilbab yang mendesah dan
merintih penuh kenikmatan dari
balik jilbabnya tersebut. Entah
karena imannya yang tengah lemah
atau memang karena libidonya yang
tinggi, Rifqoh justru mulai terlena
oleh rangsangan-rangsangan yang
aku lakukan ini.Di saat wajahku
terbenam di antara dua paha mulus
Rifqoh, tanganku menggerayangi
bagian dada wanita berjilbab yang
montok membukit dan masih
kenceng ini. Tanganku menyusup di
balik jilbab lebar yang dipakai Rifqoh
hingga tanganku merasakan
gundukan montok dan kenyal di dada
wanita berjilbab lebar ini. Tanpa
diduga, Rifqoh yang telah kehilangan
kendali atas dirinya akibat
kenikmatan yang dirasakannya
justru menyampirkan jilbab lebarnya
ke punggungnya seakan
mempersilahkan tanganku untuk
menggerayangi dadanya bahkan
wanita berjilbab lebar yang masih
perawan ini sendiri yang membuka 3
kancing jubahnya bagian atas satu
persatu, kemudian mengeluarkan
sepasang buah dadanya sendiri dari
balik jubah yang dipakainya.
Sejenak aku mendongak ke atas
melihat reaksi Rifqoh yang tidak
kuduga itu. Mataku melotot penuh
nafsu melihat sepasang buah dada
Rifqoh yang montok putih mulus
dengan puting susu kemerahan itu
telanjang tanpa penutup lagi.
Mulutku terkekeh melihat buah dada
Rifqoh lalu dengan bernafsu
tanganku mengelus-elus lantas
meremas-remas sepasang payudara
wanita berjilbab yang telanjang itu.
Sepasang payudara montok
berukuran 34 C yang putih mulus di
dada Rifqoh terasa kenyal di
tanganku yang meremas-remasnya.
Dan puting susu kemerahan yang
telah mengeras itu pun aku pelintir
dan tarik-tarik membuat tubuh
wanita berjilbab lebar ini
menggelinjang jalang.
Akhwat alim ini hanya merintih-
rintih dan memekik-mekik lirih dari
balik jilbabnya dengan tubuh yang
menggelinjang-gelinjang menahan
birahinya. Rifqoh menggelinjang
jalang ketika berulangkali kelentit
wanita berjilbab alim ini aku jilat
dan hisap dengan kuat lantas puting
susunya yang kemerahan kupelintir
dengan pelintiran yang luar biasa.
Mata wanita jilbaber yang bulat ini
terlihat sayu menahan birahi yang
melandanya, nafasnya terdengar
memburu di balik jilbab lebar
putihnya, kemaluannya yang tengah
kujilati juga telah basah oleh cairan
kenikmatan yang berulangkali
terpancar.
Melihat Rifqoh sudah dilanda birahi,
aku segera berdiri di depan wanita
berjilbab lebar ini. Aku memandang
Rifqoh dengan penuh nafsu ketika
melihat wanita berjilbab tersingkap
jubahnya hingga terlihat
kemaluannya yang mulus lalu
sepasang payudara montok dan
kencang akhwat alim ini tampak
mencuat dengan puting susu
kemerahan yang tegak mengeras.
Payudara putih mulus itu tampak
kontras dengan jubah biru yang
dipakai aktivis Partai ini. Aku tidak
menyangka akan menikmati Rifqoh
dalam kedaan seperti ini, padahal
sebelumnya aku tidak pernah
menyentuh wanita berjilbab lebar ini
kecuali hanya dapat mengintip
ketika dia mandi tadi bahkan
membayangkannyapun tidak.
Di depan Rifqoh yang tengah birahi,
aku melepas celana yang sedang
kupakai ini disusul dengan melepas
celana dalamku, sehingga mencuatlah
kontolku yang membuat mata
wanita berjilbab lebar ini terbelalak.
“Ihhh..” desah spontan Rifqoh dari
balik jilbabnya.
Wanita berjilbab lebar ini
memalingkan wajahnya dengan wajah
memerah oleh rasa malu melihat
penisku karena baru kali ini Rifqoh
melihat penis lelaki. Aku terkekeh
melihat sikap Rifqoh.
“Kenapa melengos mbak?.. Ayo lihat
aja” kataku sambil memalingkan
paksa wajah wanita berjilbab lebar
ini agar kembali melihat penisku.
Rifqoh yang tengah dilanda birahi itu
tak mampu menolak ketika aku
memaksanya untuk melihat penisku.
Mata wanita berjilbab lebar yang
bulat ini kian membelalak lebar
ketika akhirnya dia kembali melihat
batang penisku. Rifqoh menggigit
bibirnya kuat-kuat menahan gejolak
birahi dengan mata lekat
memandang penisku yang hitam
karena aku sudah pernah ngentot
dengan perempuan, besar dan
panjang dan di mata wanita
bercadar ini penisku berukuran luar
biasa. Batang penisku berukuran
besar dan panjang dengan urat-
urat kejantanan yang menonjol
berkilat-kilat. Penis hitam tersebut
dihiasi bulu-bulu kemaluan yang
tumbuh dengan lebat namun terlihat
rapi terawat membuat Rifqoh
betah memandangnya.
Aku terkekeh melihat mata wanita
berjilbab lebar ini memandang
penisku yang tegang dengan
pandangan nyaris tak berkedip. Aku
jadi sangat terangsang melihat
mata Rifqoh itu yang tampak
sangat menikmati penisku bahkan
ketika aku meraih tangan Rifqoh
dan menuntunnya untuk
menggenggam batang penisku,
wanita alim ini tak melawan. Batang
penisku yang hitam terlihat sangat
kontras ketika berada dalam
genggaman jari-jemari Rifqoh yang
putih dan halus.
“Elus-elus aja mbak.. Rifqoh.”desisku
bergetar oleh nafsu birahi.
Entah dorongan dari mana, seketika
itu pula jari jemari Rifqoh yang
putih dan halus tersebut mengusap-
usap lantas mengelus-elus batang
penis yang telah membuat wanita
berjilbab lebar ini takjub dan
terangsang melihatnya. Aku merem
melek, ketika jari-jemari Rifqoh
yang lembut dan halus mengelus-
elus batang kejantananku.
“Kalo di Sumedang namanya apa?’
tanyaku nakal.
Rifqoh yang tengah mengelus-elus
penisku memandang ku sejenak.
“Kontol!” jawab wanita berjilbab lebar
ini sambil kembali menatap penisku
yang tengah dinikmati oleh
tangannya
Aku terkekeh mendengar jawaban
Rifqoh. Ternyata seorang wanita
berjilbab ledar yang alim seperti
Rifqoh bisa mengucapkan kata
kontol juga.
Beberapa saat kemudian aku sudah
tak mampu menahan birahi lagi. Aku
segera mendudukkan Rifqoh di tepi
ranjang lantas aku membuka kedua
paha Rifqoh lebar-lebar sehingga
kemaluan wanita berjilbab lebar ini
terlihat merekah di depanku.
Birahiku menggelegak melihat
kemaluan Rifqoh terpampang di
depanku dengan paha yang terbuka
lebar. Kemaluan wanita berjilbab
lebar yang tanpa bulu kemaluan itu
terlihat basah. Bibir kemaluan
wanita berusia 25 tahun itu
terlihat sangat memerah dan
merekah serta merangsang birahi.
Aku menyeringai ketika tangan
Rifqoh yang masih menggenggam
penisku menarik batang kejantanan
ini ke arah kemaluan wanita
berjilbab lebar ini.
“Kenapa Qoh…udah nggak sabar yah?”
tanyaku sambil terkekeh namun
Rifqoh tidak menjawabnya.
“Mmmmhhhh..” desah Rifqoh ketika
penis besar itu mulai menyentuh
bibir kemaluannya yang merah
merekah.
Penis besar yang ada dalam
genggamannya didorongnya kian ke
dalam dan secara refleks kedua
paha wanita berjilbab lebar ini
membuka lebar. Tubuh wanita
cantik jilbaber ini tersentak ketika
kemudian aku yang mendorong penis
besarku memasuki dan menyusuri
liang vaginanya yang masih perawan
itu semakin dalam. Rifqoh
menggelinjang ketika wanita
berjilbab lebar ini merasakan hangat
dan besarnya penisku masuk dalam
liang memeknya yang masih rapet
itu hingga amblas di dalamnya.
Akhirnya berhasil juga aku
memerawani dan menjebol memek
akhwat cantik yang masih rapet ini.
“Ahh… ahh.. ssshhh.. sakit.. pak… pelan-
pelan dulu ya.” desah Rifqoh ketika
kemudian aku mulai menggerakkan
penis maju mundur.
Secara refleks wanita aktivis
Partai ini menggoyangkan pinggulnya
mengimbangi gerakan kontolku ini
yang semakin lama semakin cepat.
Mata Rifqoh merem melek ketika
penis besarku mengaduk-aduk liang
vaginanya. Mulut wanita berjilbab
lebar ini meracau sambil merintih
merasakan kenikmatan yang belum
pernah didapatkan seumur hidupnya
dari siapa pun.
“Ahh.. ahh.. sshhh..” desah wanita
berjilbab ini menggairahkan di
tengah suara beradunya tubuh kami
berdua.
Rifqoh tidak sadar ketika kemudian
kedua kaki akhwat jilbaber yang
masih terbungkus kaus kaki ini
menjepit tubuhku. Tubuh wanita
berjilbab ini terguncang-guncang
oleh gerakan ritmis dariku yang
begitu bernafsu menyetubuhinya.
Nafasku mendengus-dengus oleh
libido yang menggelegak liar
ditingkahi nafas Rifqoh yang
memburu di balik jilbab dan jubah
panjang yang dipakai wanita ini.
Berulangkali wanita berjilbab ini
merintih dan mengerang merasakan
nikmat dengan tubuh menggelinjang
hebat. Mata Rifqoh merem melek
menikmati penisku yang mengaduk-
aduk memeknya dan membuat tubuh
wanita berjilbab ini terguncang-
guncang.
Ketika tubuh Rifqoh terguncang-
guncang, sepasang payudara montok
dan masih kencang yang putih mulus
di dada wanita berjilbab lebar ini
ikut terayun-ayun. Mataku melotot
melihat payudara Rifqoh yang
telanjang terayun-ayun di depannya,
mulutku tak sabar mau segera
melumat dan mengunyah-ngunyah
sepasang payudara di dada wanita
berjilbab ini secara bergantian.
Sekejap kemudian payudara Rifqoh
yang putih mulus itu dipenuhi bilur-
bilur kemerahan bekas gigitanku.
Rifqoh hanya mampu merintih di
balik jilbabnya ketika buah dadanya
yang montok aku lumat dan
kunyah-kunyah secara bergantian.
Tubuhnya menggelinjang dengan
jalang saat kedua puting susunya
kuhisap dengan kuatnya dan penuh
nafsu.
Aku yang telah puas menikmati buah
dada montok dan kenyal Rifqoh
ketika melihat wajah akhwat alim
ini masih memakai cadar, mendadak
timbul rasa penasaran untuk
mencopot jilbab lebar akhwat asal
Sumedang ini. Aku memang pernah
melihat wajah Rifqoh tanpa jilbab
ketika mengintip dia mandi yang
memang terlihat cantik, namun aku
masih penasaran terhadap wajah
Rifqoh yang sepenuhnya. Akhirnya
aku segera mencopot jilbab dipakai
Rifqoh ini hingga terlihat wajah
akhwat cantik ini terpampang di
depanku.
Gerakan ritmisku menyetubuhi
Rifqoh mendadak terhenti ketika
wajah wanita berjilbab lebar ini
telah terpampang di depanku dengan
tanpa jilbab lebarnya. Dadaku
berdesir ketika matanya menatap
wajah Rifqoh yang tidak lagi
tertutup jilbab. Wajah wanita
berkulit putih ini terlihat sangat
cantik bahkan lebih cantik
dibandingkan ketika aku intip dia
ketika sedang mandi.
“Cantiknya….” desisku yang membuat
wajah Rifqoh merona merah.
Wajah cantik Rifqoh yang tengah
terangsang semakin membuatku
makin bernafsu apalagi ketika aku
melihat bibir kemerahan yang
sensual Rifqoh tampak terbuka
menggairahkan.
Melihat mulut Rifqoh dengan bibir
sensual yang terbuka, aku segera
melumat bibir akhwat cantik ini
dengan buas. Aku terkejut ketika
ternyata lumatanku ini segera
dibalas oleh akhwat alim ini bahkan
kedua tangan wanita ini melingkar
ke punggungku. Aku pun makin liar,
sementara penis besarku kembali
mengaduk-aduk kemaluan Rifqoh dan
kembali akhwat aktivis ini
terguncang-guncang di ranjang.
Rambut Rifqoh yang selama ini
tersembunyi dalam jilbab lebarnya
ternyata sangat indah. Rambut
wanita asal Sumedang ini tampak
hitam legam dan panjang ikal hingga
punggung. Setelah itu tanganku
segera melepas jubah biru kembang
yang dipakai Rifqoh dan disusul
dengan kaus kaki yang membungkus
kedua betis wanita alim ini hingga
akhirnya tubuh Rifqoh telanjang
bulat tanpa sehelai benangpun
menutupinya.
Sulit dipercaya memang, tubuh
wanita berjilbab lebar yang semula
tertutup rapat dari ujung rambut
sampai ujung kaki kini telanjang
bulat tanpa sehelai benangpun
menempel di tubuhnya yang montok
dan sintal.
Aku semakin bernafsu menyetubuhi
Rifqoh setelah wanita berjilbab ini
telanjang bulat dan aku kian erat
memeluk wanita yang bukan istriku
ini. Tubuh akhwat alim yang montok
dan sintal serta berkulit putih
mulus tanpa cacat dan berbau
harum adalah ciri tubuh wanita
yang selama ini aku idamkan. Aku
telah menikah namun baru pertama
kali bersetubuh dengan wanita
seperti Rifqoh. Kulit Rifqoh yang
putih mulus tampak terlihat
kemerah-merahan di sana-sini bekas
cumbuan dan gigitanku. Leher
akhwat aktivia yang alim ini terlihat
beberapa cupang yang memerah
lantas dadanya yang montok
membukit juga penuh bekas
cumbuan dan gigitanku yang tengah
dilanda birahi ini.
Rifqoh juga merasakan kenikmatan
persetubuhan yang terlarang ini.
Pantat akhwat alim ini terus
bergoyang mengikuti gerakan
penisku yang mengaduk-aduk liang
kemaluannya. Berulang kali tubuh
wanita ini menggelinjang liar dengan
mulut yang mendesah dan menjerit
ketika berulang kali dia merasakan
kenikmatan persetubuhan yang
terlarang ini. Rifqoh sudah tidak
memperdulikan dirinya sebagai
wanita berjilbab lebar, nalurinya
sebagai wanita normal yang punya
birahi membuatnya ikut menikmati
persetubuhan yang terlarang ini.
Wanita asal Sumedang ini mengakui
keperkasaanku dalam
menyetubuhinya dan persetubuhan
itu semakian lama semakin liar yang
membuat Rifqoh nyaris tidak
merasakan ketika kemudian
persetubuhan itu berpindah di atas
kasur kamar penginapan ini.
Kamar yang tergolong sempit itu
menjadi saksi pergumulan kami, dua
orang manusia lain jenis yang saling
berpacu dalam birahi itu di ranjang
kamar ini. Dengusan nafas penuh
birahi ditingkahi desahan dan
rintihan serta ditingkahi bunyi khas
beradunya dua tubuh yang tengah
bersetubuh ini memenuhi kamar
penginapan kami. Tubuh Rifqoh yang
putih mulus tampak sangat kontras
dengan tubuhku yang sawo matang
kecoklatan kekar ketika kami
berdua bergulat dan bergumul.
Beberapa kali terdengar erangan
dan jeritan Rifqoh penuh kenikmatan
sambil memelukku namun
persetubuhan yang liar itu tak
kunjung selesai.
Sekitar setengah jam kemudian
tubuh Rifqoh yang semula
menggelinjang-gelinjang dengan jalang
perlahan mulai melemah. Akhirnya
tubuh akhwat alim ini terkulai
lemas, matanya terpejam dengan
tubuh terlentang di bawah
tindihanku. Nafas Rifqoh masih
memburu dengan liar namun dia
tidak lagi mengimbangi gerakanku
seperti semula walaupun tubuhnya
masih teguncang-guncang oleh
gerakanku yang masih mengaduk-
aduk kemaluannya.
Agaknya akhwat alim ini telah
kehabisan tenaga dan tak mampu
mengimbangi keperkasaan diriku.
Wanita ini hanya membuka pahanya
lebar-lebar namun dia hanya
terlentang lemas dan tak mampu
lagi menggerakan pinggulnya seperti
semula. Rifqoh hanya pasrah sambil
menikmati penis besarku yang
tengah mengaduk-aduk liang
vaginanya ditingkahi dengusan
nafasku yang kasar.
Sekitar sepuluh menit kemudian,
Rifqoh merasakan tubuhku
mengejang hebat dan kemudian aku
menggeram liar bagaikan geraman
seekor singa dan bersamaan dengan
itu Rifqoh merasakan penis besarku
melesak ke dalam memeknya hingga
ke dasar menyentuh rahimnya.
“Aghhhhhhhhhhhh..” geramku sambil
memeluk Rifqoh kuat-kuat.
Rifqoh tersentak ketika dia
merasakan cairan hangat memancar
deras secara bergelombang dari
penisku ke dalam kemaluannya
disertai eranganku yang penuh
kenikmatan yang mirip erangan
seekor singa jantan. Cairan
kenikmatanku itu terasa begitu
banyak memenuhi rahim dan liang
kemaluannya sehingga Rifqoh
merasakan cairan dari penisku yang
hangat itu meleleh bercampur darah
perawan akhwat alim ini, keluar
menyusul cairan kenikmatannya yang
telah keluar berulang kali
sebelumnya.
Sejenak kemudian kamar itu terasa
sunyi, hanya terdengar suara
desahan nafasku ditingkahi desah
nafas Rifqoh yang masih terlentang
pasrah di bawah tindihanku ini.
Perlahan kemudian aku mencabut
penisku dari liang kemaluan akhwat
alim yang telah daku setubuh ini.
Kepuasan tampak terlihat Rifqoh
dan aku juga merasa puas sekali..
Aku yang masih belum memakai
celana ini berdiri sambil memandangi
tubuh telanjang Rifqoh yang masih
tergeletak di kasur kamar itu.
Selama ini aku tidak pernah
membayangkan bisa melihat tubuh
telanjang seorang wanita berjilbab
lebar yang alim, namun malam ini
tubuh wanita berjilbab lebar yang
menjadi mahasiswiku ini telanjang
bulat di depanku setelah aku puas
menyetubuhinya. Melihat tubuh
Rifqoh yang telanjang bulat, timbul
keinginan diriku ini untuk
menyetubuhinya kembali.
“Mbak Rifqoh, saya sebenernya masih
pengen lagi tapi saya takut yang
lain keburu datang…. besok aja kita
ulangi lagi.. mbak montok dan sintal..”
ujarku akhirnya.
Sebelum aku meninggalkan kamar
itu, aku sempat memagut bibir
Rifqoh dan melumatnya. Rifqoh yang
masih lemas ini ikut membalas
pagutanku ini, sehingga beberapa
lama kedua bibir kami menyatu.
Bukan hanya bibir Rifqoh saja yang
aku lumat, namun bibir kemaluan
akhwat alim yang merekah
kemerahan juga kemudian aku lumat
dengan bibirku. Tubuh Rifqoh hanya
menggelinjang jalang ketika aku
melumat bibir kemaluannya dengan
buas.
“Mbak segera mandi dan pakai
kembali pakaianmu.. teman-teman
kita akan segera datang” kataku
sambil memakai celanaku kembali.
Setelah itu aku bergegas keluar
dari kamar itu dan menutup
pintunya, meninggalkan Rifqoh yang
masih terlentang lemas di kasur
kamar itu.
Aku tidak langsung pergi tapi ingin
mengintip bagaimana reaksi Rifqoh
sepeninggalku. Rifqoh bangkit berdiri
dan perlahan-lahan kesadarannya
sebagai seorang wanita berjilbab
lebar mulai timbul. Tubuh Rifqoh
bergetar hebat ketika wanita ini
mulai menyadari perbuatan yang
baru saja terjadi dan sedetik
kemudian tangis akhwat alimini
pecah sambil menutup muka dengan
kedua telapak tangannya. Tubuh
wanita ini terguncang-guncang saat
dia terisak-isak menyesali
perbuatannya. Rasa malu dan rasa
bersalah yang sangat hebat melanda
dirinya ketika wanita ini teringat
dia ikut menikmati persetubuhan
terkutuk itu oleh dorongan
nafsunya.
Wanita berjilbab lebar yang merasa
kehormatannya telah tercemar dan
merasa telah berkhianat terhadap
komitmennya ini meratap penuh
penyesalan bahkan rasanya dia ingin
bunuh diri daripada hidup dengan
kehormatan yang telah tercemar
seperti saat ini. Di tengah ratapan
penyesalannya, aku kembali masuk
kamar dan menghiburnya aku tidak
sampai hati mempermainkan akhwat
alim ini.
”Sekarang mau kan nikah sama aku
dan jadi istri keduaku?” tanyaku.
Rifqoh tetap bertekad untuk
menolakku sampai kapan pun untuk
menikah dengan diriku. Akhirnya aku
bertekat untuk menyetubuhi
akhwat alim ini berkali-kali hingga
dia hamil.Ya, aku bertekat untuk
menghamili Rifqoh.
Esok harinya rombongan KKN kembali
lagi ke Padang. Namun tekadku
untuk menghamili Rifqoh bukan hal
yang mudah untuk diwujudkan
karena setelah kejadian malam di
tempat KKN itu, Rifqoh selalu
menghindar dariku. Tapi kesempatan
itu aku dapatkan lagi ketika kedua
orang tua Rifqoh pergi keluar kota
untuk suatu urusan selama satu
minggu. Ketika tahu hal itu, malam
harinya aku ke rumah Rifqoh dan
menyelinap ke dalam kamarnya dan
berniat mengulangi perbuatanku
kepada wanita berjilbab lebar ini.
Aku memang semula merasa kaget
ketika Rifqoh berusaha melawan
dengan sengit, namun apalah arti
tenaga seorang wanita seperti
Rifqoh bagi diriku yang bertubuh
kekar dan tengah dilanda birahi,
selain itu Rifqoh sendiri sangat
tinggi birahinya. Dengan mudah aku
melumpuhkan perlawanan wanita
berjilbab lebar ini lalu dengan leluasa
aku menyetubuhinya dan
melampiaskan nafsuku terhadap
wanita berjilbab ini. Sudah tiga kali
aku menyelinap ke dalam kamar
Rifqoh dan tiga kali pula aku mampu
menyetubuhi wanita berjilbab lebar
ini. Suasana rumah yang sepi
tersebut ternyata menjadi neraka
bagi wanita berjilbab tersebut.
Ada yang berubah pada diri Rifqoh
setelah tiga
minggu aku setubuhi.
Menurut teman-temannya, Rifqoh
sekarang berubah menjadi sangat
pendiam dan wanita berjilbab ini
sering melamun. Aku kemudian
kembali menawarinya agar dia mau
menikah denganku dan jadi istri
keduaku. Jiwa Rifqoh terlihat labil,
namun yang sesungguhnya terjadi
wanita berjilbab lebar kalut karena
setelah aku setubuhi, tiba-tiba
Rifqoh sering muntah-muntah.
Saat itulah Rifqoh nampak cemas
dan diam-diam wanita berjilbab ini
minta dibelikan alat tes kehamilan
kepadaku. Ketika alat tes kehamilan
itu dipakainya, tubuh wanita
berjilbab lebar ini gemetar karena
dia melihat alat tes kehamilan itu
menunjukkan bahwa dirinya kini
positif hamil dan dia mengetahui
bahwa yang membuatnya hamil
adalah diriku, laki-laki yang dia benci.
Ak
Langganan:
Komentar (Atom)


